Jumat, 22 Maret 2013

Cerpen : Arema!


Sharadiva’s Screet Story
Buliran keringat melewati pipi ku dengan mulus menambah guyuran semangat dalam diriku untuk terus meneriakkan nyanyian suporter Arema Indonesia. Beberapa pasang mata memandangku dengan sebelah mata. Ah, masa bodo dengan mereka. Memangnya ada undang-undang yang mengharamkan gadis berjilbab dan bergamis menonton bola di stadion? Tak ada! Dan jika aku menjadi pejabat perancang RUU, itu takkan pernah ada! Camkan itu! Aku juga mempunyai hak menyalurkan semangatku yang berkobar untuk klub idolaku bukan? Miris hatiku, mengingat jika mereka melihat seorang gadis berjilbab mengelayuti lengan kekasihnya dengan manja di keramaian mereka juga tak bereaksi. Namun jika melihat aku disini, seolah mereka sedang memandang gadis bercumbu di depan umum. Dunia memang aneh, dan aku juga mungkin aneh karena dunia. Aku memang naif, yah, naif.
“Gggooolll!!!” aku menciptakan selebrasiku sendiri -menelungkupkan kedua tangan berkali-kali di muka penuh keringatku sebagai tanda syukur- begitu melihat Noh Alamsyah menyarangkan gol ke kandang Persib Bandung. Skor 3-1 untuk Arema pada menit ke-54. Perfect result! Hatiku turut bergetar seolah kaki ku yang memproduksi tendangan indah tersebut. Sohib kentalku semenjak semester 1, Nadine, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat besarnya rasa cintaku pada Arema Indonesia.
Sorotan mentari senja menegurku akan waktu, segera kulirik jam yang melingkar manis di tangan kiriku. Wah, gawat! Jam 17.55. Persiapanku masih nol besar menghadapi kuis dosen killer esok hari. Aarrgghh, andai bisa dosen itu ku ajak kompromi, tentulah hatiku tidak begemuruh bak ombak pantai selatan seperti ini. Segera ku tarik lengan Nadine meninggalkan tribun penonton stadion Kanjuruhan, Malang yang semakin bergelora membakar semangat para pemain Arema. Nadine mengikuti langkah kakiku dengan heran mengingat bagaimana berderu nya aku tadi untuk mengajaknya kesini dan sekarang meninggalkan pertandingan begitu saja, tanpa secuil alasan pun.
“Ra, pelan-pelan dong jalannya. Ada apaan si, kaya di kejar orang gila aja kamu.” Teriak Nadine guna menyaingi seruan penonton.
Tak ku hiraukan ocehan Nadine dan terus ku seret tangannya melewati bangku penonton satu demi satu dengan langkah sangat cepat, lebih mirip disebut lari sepertinya. Rasanya bak terbebas dari jeruji besi selama berabad-abad begitu menginjakkan kaki di luar stadion. Ku hirup nafas panjang beberapa kali dan ku hembuskan sangat pelan, sepelan siput ketika berjalan. Tawaku meledak saat menumbukkan mata pada sosok Nadine yang tak karuan rupanya. Rambut ikalnya melenggang ke segala arah tersaput angin malam, membuatnya terlihat kribo. Belum lagi maskaranya luntur terkena keringatnya sendiri. Perutku sampai nyeri melihat Nadine kebingungan dan kesal karena aku menertawakannya membuat kami jadi sorotan sekumpulan spesies manusia.
“Rese tau ngga sii kamu! Nyebelin. Tau gitu mending ngga aku temenin kesini tadi. Huh. Belum selese pertandingannya malah uda cabut.” Nadine memonyongkan bibirnya melukiskan kekesalannya.
“Haha. Ngaca deh kamu. Haha. Sorry tadi aku keburu banget. Besok aku ada kuis nya pak Widodo di kelas sastra, aku belum belajar sama sekali, aku baru inget tadi. Haha.” Meskipun terselip rasa bersalah dalam hatiku, namun tawa ini tak mampu ku pasung barang sekejap pun. Tak apa lah, pasti sohib ku ini mempunyai kabel-kabel pararel yang tersambung di hatiku dan mengerti jika aku hanya bergurau semata.
“Uda ratusan kali sejak kenal kamu aku di giniin pas nemenin nonton bola, tapi kok aku mau terus sii di kerjain kamu. Uhh,” Tangan terawatnya mencari cermin antiknya di tas sambil mengayunkan kaki, meninggalkanku yang masih tak juga berhenti dalam tawaku. Jarinya mulai merapikan rambut dan menghapus corengan maskara di pipi ranumnya.
“Aduh Nadine sayang, jangan ngambek dong. Haha. Lagian kamu nonton bola pake dandan, rambut juga keriting salon dulu. Kaya aku gini dong, baju kebanggaan kuliah, gamis plus pashmina trus bedak tipis-tipis aja. Haha.” Dengan senyum yang tetap merekah aku menyusul Nadine menuju mobilnya. Aku paham Nadine, dia sudah seperti lebih dari saudara bagiku (apa yah? Hehe), satu setengah tahun tinggal satu rumah, berangkat dan pulang kuliah di Brawijaya pun satu mobil, satu fakultas, namun beda jurusan. Dia sangat jenius dalam bidang sastra jepang sedangkan aku lebih ke english.
“Kamu yang aneh, Miss Sharadiva Ivanowsky, masa nonton bola pake gamis? Hmm? Haha. Emang di kota asalmu, Kudus sana, gitu yah? Haha” Ledekannya berbalik menonjokku saat sudah duduk manis di sebelahku. Tuh kan, apa aku bilang tadi, dia tak akan betah lama-lama memonyongkan bibirnya. Ku injak pedal gas dengan keras, membuat Nadine meluncurkan sumpah serapah karena kekagetannya. Aku tertawa puas melihatnya kembali menggerutu.
------------------------------------------
Embun pagi menyapaku begitu kubuka jendela kamar di pagi yang indah. Burung-burung liar tersenyum kepadaku sambil mengepakkan sayapnya dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Aku sangat mencintai rumah ini, tak tersentuh polusi kota Malang dan tak terdengar tangisan jalan raya khas kota besar. Sejauh mata memandang, hanya terhampar berpuluh-puluh hektare perkebunan buah. Rumah yang menjadi sengketa pada awal perjumpaanku dengan Nadine, dan akhirnya kami memilih menyewanya berdua hingga saat ini. Satu persatu ku bereskan barang yang berserakan di kamarku, yang semuanya berbau Arema.
“Sha, kalo pas basuh muka bacanya apah?” tiba-tiba seraut wajah kusut nongol di depan pintu kamar. Nadine dengan wajah bangun tidurnya bertanya penuh harap.
“udah aku tempelin tadi malem di samping kran air. Pasti belum liat kan? Gih, shubuhan dulu, uda jam 6.” Ku rantai tawaku semampuku demi melihat perjuangan Nadine untuk berwudhu.
Hampir saja aku melupakannya, Nadine dulunya adalah kristiani yang sangat ta’at. Setiap Minggu, dia selalu rajin menampakkan diri di gereja terdekat. Jujur saja, tak pernah terbersit setitikpun dalam fikirku bahwa Nadine akan menjadi akhwatku dalam islam. Semenjak pertama tinggal dengannya, dia memang sudah memberondongku dengan bombardir pertanyaan seputar islam untuk menghujatnya dengan jalan pikir kristianinya, namun ternyata setahun kemudian Nadine mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid At-Taqwa dekat rumah dengan bimbingan seorang Kyai. Subhanallah, aku pun tak kuasa menahan tangis dan segera mengambur dalam pelukannya.
Christabel Nadine Alexandra bertransformasi menjadi Nadine Fatimah Bilqisa. Keluarga besarnya di Surabaya membebaskan memilih apapun dalam hidupnya, membuat urusan menjadi selangkah lebih mudah. Hari-hari penuh kekonyolan membimbingnya untuk mempelajari islam di mulai. Belajar sholat dengan mendegarkan bacaannya dari ipod hingga tertidur dalam sujud saat sholat Shubuh. Pada akhirnya aku hanya bisa tertawa berguling-guling di lantai tak peduli di hujani tatapan-gue makan lo- dari Nadine.
------------------------------
“Shara, aku diajak Nick balik ke keyakinanku dulu. Aku uda nolak terus-terusan tapi dia tetep maksa. Aku takut,” aku melihat mata Nadine yang penuh kegalauan.
Aku benci mendengar nama Nick. Selain karena dia selalu mengejek Arema dengan viking-nya, di matanya, umat muslim juga sangat rendah, tak mempunyai harga. Kuhirup aroma kopi J.Co dan menikmati sensasinya membelai manja hidungku. Hujan deras sejak sore hanya menyisakan gerimis, beberapa tetes mengenai kaca dan kusentuh seakan aku menyentuhnya langsung tanpa perantara kaca. Ribuan kendaraan berlalu-lalang setiap menitnya membuahkan pemandangan gemerlap lampunya. Sementara Nadine masih memandangku dengan sejuta pantulan harap. Seleranya sama sekali tak tergugah untuk sekedar melirik secangkir kopi di hadapannya.
“Allah pasti lindungin hamba-Nya dine, pasti. Trust me! Aku juga bakal selalu ada buat kamu. Kamu uda putusin Nick kan?”
“Ga segampang itu Sha, Nick selalu maksa aku, seakan-akan neror aku. Dia ga pernah mau aku putusin, tapi aku anggepnya kita uda putus,” Desahan nafas Nadine terdengar berdengung di telingaku membuat kepalaku semakin penuh sesak serasa akan meledak.
“Kita omongin besok aja yah dine, mumpung Minggu. Kepalaku pusing banget, banyak kerjaan di BEM yang belum selese, belum lagi mata kuliah yang ga kekejar. Maaf,”
“iya gapapa Sha, aku ngerti. Maaf uda bikin kamu tambah pusing yah. Sekarang kita pulang aja, uda malem, biar aku yang nyetir,” Nadine beranjak dan membantuku bangkit.
Ah, Nadine memang berhati bersih, bak kertas kosong tanpa setitik tinta pun. Sahabat macam apa aku ini, tak bersedia mendengar keluh kesah sahabatnya. Esok hari masih bisa ku simak penuturannya.
------------------------
Rasanya hari sudah beranjak siang ketika terbangun dari tidur yang sangat nyenyak malam ini. Poster Yongki Aribowo, pemain Arema pujaan hati menyambutku dengan senyuman manisnya. Aku melirik jam berlogo arema, dan terbelalak melihat jarum pendek di angka 9 dan jarum panjang di angka 8. Selepas shubuh tadi, tak seperti biasanya aku kembali terpuruk ke atas kasur. Astaghfirullah, jangan sampai terulang kembali.
Selembar kertas asing tergeletak disamping jam Arema. Segera kupungut dan kubaca dengan mata masih 5 watt.
Sha, Nick ngajak ketemu aku jam 7 di gereja dket sini. Dia bilang mau ngomong penting, juga dia katanya nyerah buat maksa aku balik k agama yn dulu. Perasaanku gaenak. Kalo smpe jm stenngah 9 aku gabalik, jemput aku. Thankz. –Nadine-
Jam setengah 9? Itu kan sejam yang lalu. Aduh Shara, kamu telat! Ya Allah, lindungi saudaraku ini ya Allah. Ku sambar gamis yang ada dan secepat kilat berlari menuju gereja yang berjarak sekitar 1km dari rumah. Tak ku hiraukan betapa nyerinya perutku yang masih kosong, tak termasuki apapun.
Misa pagi sepertinya telah usai dan gereja mulai sepi. Ku langkahkan kaki pelan, mengendap-endap menuju jendela samping gereja. Alangkah terkejutnya melihat apa yang sedang terjadi di dalam gereja. Darahku seolah berhenti mengalir dan kakiku membeku di tempat. Seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Nadine sedang meronta melepaskan diri dari cengkraman beberapa biarawati. Pastor separuh baya memegang kepalanya dan membacakan alkitab. Sedangkan Nick dengan senyum liciknya berdiri di samping Pastor. Aku tak tau itu apa, namun cuci otak dan pembaptisan sepertinya!
Tanpa berpikir panjang, aku melempar batu segenggaman tangan yang berserakan di tanah ke arah jendela sebanyak tiga kali dan berlari menuju pintu belakang memasuki gereja. Sang Pastor dan Nick menghentikan kegiatannya dan memeriksa jendela. Pada saat itulah aku membabi buta menyingkirkan para biarawati yang sedang menahan Nadine dan menariknya lari melalui pintu depan.
Aku merasakan kakiku melayang membawa Nadine menjauh dari tempat itu. Nick berlari mengejar aku dan Nadine tanpa ampun sedikitpun. Jari-jari Nadine yang ku genggam sangat dingin membuatku semakin cemas. Wajahnya pucat karena ketakutan yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku menyeberangi jalan raya begitu saja. Terdengar jeritan Nadine dan kerumunan disekelilingku, dan gelap.
--------------------
Langit sore ini mendung. Aku tau, bumi dan langitpun berduka atas kepergiannya. Apalagi aku, sang sahabat. Gundukan tanah yang masih basah mengisyaratkan bahwa penghuninya baru saja menempatinya. Batu nisan bertuliskan Nadine Fatimah Bilqisa tertancap di atasnya. Hatiku pilu menyadari nama tersebut adalah nama Nadine, sahabatku.
Kejadian di depan gereja tiga tahun lalu merenggut hartaku yang sangat berharga, kedua mataku untuk melihat warna-warni dunia dan Arema, tentunya. Namun tak pernah terpercik rasa sesal di hatiku karena aku mampu melindungi sahabatku, Nadine. Selama tiga tahun ini Nadine dengan sabar merawatku dan mengajarkan mata kuliah bahasa inggris yang dengan tekun sengaja dipelajarinya demi mengajarkannya kepadaku. Dia juga dengan sabar mengetikkan skripsiku hingga hampir usai. Tak lupa, laporannya mengenai seluruh sepak terjang Arema.
Tepat seminggu yang lalu dokter Wijaya memberitahuku ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untukku. Alangkah berbunganya hatiku dan ku bagi secercah harap itu pada Nadine. Aku tau dia juga ikut tersenyum meskipun aku tak dapat melihatnya. Segera esoknya, aku memasuki ruang operasi dan menerima kedua mata dari orang yang sangat mulia tersebut yang tak aku ketahui.
Ada yang hilang semenjak aku keluar dari ruang operasi, sesuatu yang amat berharga melebihi kedua mata baruku. Nadine hanya sesekali memasuki ruanganku dan itupun hanya untuk sekedar menyapaku pelan kemudian menghilang kembali. Ingin ku lepas perban di kedua mataku segera agar bisa melihat wajah cantik Nadine kembali setelah tiga tahun lebih.
Dan pagi tadi, akhirnya aku dapat menikmati pelangi dunia namun aku tak menemukan sosok Nadine begitu membuka mata! Ku tanyakan pada setiap orang dan ternyata jawabnya ada di batu nisan ini. Batu nisan dihadapanku. Aku bersimpuh di samping makam belahan jiwaku dan dengan tangan bergetar membuka surat yang dititipkan pada Bunda.

Sharadiva Ivanowski. Aku merasa heran pertama kali mendengar namamu. Terdengar seperti orang Rusia mungkin? Ah, yang jelas bukan Indonesia yah, hehe. Saat kamu membaca suratku ini, mungkin aku sudah tenang oleh doamu Sha.
Kita seperti mata dan tangan Sha. Jika tangan terluka, maka mata akan meneteskan air mata dan jika mata meneteskan air mata, maka tangan akan mengusapnya dengan lembut. Iya kan? Aku berharap kamu jadi yang terbaik, meskipun tanpa aku.
Mataku ini sebagai ganti matamu yang lenyap saat kamu menyelamatkan hidupku. Kamu pahlawan Sha. Tetapi tak usahlah kamu merasa bersalah, karena aku memang mengidap kanker otak dan sudah tiba waktunya kembali pada Yang Maha Kuasa. Toh mataku ini tak berguna di alam kubur nanti kan?
Kamu tau Sha? Aku sudah mengenakan busana sepertimu semenjak kecelakaan yang merenggut matamu. Banyak rintangan ku hadapi namun tak mampu menggoyahkan tekadku menjadi muslimah sejati sepertimu. Semoga saja aku dapat mempertahankannya hingga akhir aku menutup mata, Insha Allah.
Maaf Shara, aku hanya bisa membuat hidupmu menderita karena mengenalku. Tetapi kamu adalah berlian dalam hidupku. Karena kamu, aku mengerti arti berbagi, karena kamu aku mengerti arti berjuang, karena kamu aku mengerti arti hidup dan karena kamu aku mngenal cahaya indah, Islam.
Rasa terima kasihku selalu terhembus melalui embun di setiap pagimu. Jika langit menangis, akupun sedang menangisi semua kebaikanmu yang tak mampu aku balas. Jika langit berbinar, akupun sedang berbinar mengingat semua tentangmu dan Arema-mu.
Sahabat Sehati,
Nadine Fatimah Bilqisa

Walyatalattovvic The PrincessHadna
XII Religion Program
Pernah di Publikasikan di majalah El-BA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar