Tak ada yang spesial, hanya catatan sederhana tanpa modal :) Kumpulan aksara tak beraturan, namun sarat makna jika di rasakan!
Jumat, 22 Maret 2013
Aku, Kemungkinan :'
Sebut saja aku sebagai sebuah kemungkinan, yang bisa untuk
kauhentikan di tengah jalan atau juga kauntuntaskan.
Sebut saja aku sebagai bagian yang akan kauhubungi sewaktu-waktu,
namun bisa juga tak kauacuhkan tanpa ragu.
Atau jadikan saja aku sebagai sosok yang kepadanya akan kauberikan cinta,
lalu kadang kautinggalkan tanpa berita.
Aku mungkin tidak akan menjadi yang pertama tahu
saat kamu sedang dalam masalah, namun aku pasti
yang akan mendengarkan tanpa sedikitpun ingin mengesah.
Karena itu tak pernah mengapa jika aku
bukanlah yang pertama bagi segalamu,
meskipun kamu adalah segalanya bagi segala yang ada padaku.
Pergilah kamu menuju tempat yang entah,
lalu kembali saja ke sini ketika sudah mulai lelah.
Bukankah di mataku, kamu adalah sosok tanpa salah?
Karena untukmu, aku selalu memiliki waktu untuk menunggu
tanpa peduli akan selama apapun itu.
Pada akhirnya, waktu yang akan memberi pengertian, jika memang cinta sudah kuberi dengan terlalu berlebihan
Cerpen : Arema!
Sharadiva’s
Screet Story
Buliran keringat
melewati pipi ku dengan mulus menambah guyuran semangat dalam diriku
untuk terus meneriakkan nyanyian suporter Arema Indonesia. Beberapa
pasang mata memandangku dengan sebelah mata. Ah, masa bodo dengan
mereka. Memangnya ada undang-undang yang mengharamkan gadis berjilbab
dan bergamis menonton bola di stadion? Tak ada! Dan jika aku menjadi
pejabat perancang RUU, itu takkan pernah ada! Camkan itu! Aku juga
mempunyai hak menyalurkan semangatku yang berkobar untuk klub idolaku
bukan? Miris hatiku, mengingat jika mereka melihat seorang gadis
berjilbab mengelayuti lengan kekasihnya dengan manja di keramaian
mereka juga tak bereaksi. Namun jika melihat aku disini, seolah
mereka sedang memandang gadis bercumbu di depan umum. Dunia memang
aneh, dan aku juga mungkin aneh karena dunia. Aku memang naif, yah,
naif.
“Gggooolll!!!” aku menciptakan
selebrasiku sendiri -menelungkupkan kedua tangan berkali-kali di muka
penuh keringatku sebagai tanda syukur- begitu melihat Noh Alamsyah
menyarangkan gol ke kandang Persib Bandung. Skor 3-1 untuk Arema pada
menit ke-54. Perfect result! Hatiku turut bergetar seolah kaki ku
yang memproduksi tendangan indah tersebut. Sohib kentalku semenjak
semester 1, Nadine, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat
besarnya rasa cintaku pada Arema Indonesia.
Sorotan mentari senja menegurku akan
waktu, segera kulirik jam yang melingkar manis di tangan kiriku. Wah,
gawat! Jam 17.55. Persiapanku masih nol besar menghadapi kuis dosen
killer esok hari. Aarrgghh, andai bisa dosen itu ku ajak kompromi,
tentulah hatiku tidak begemuruh bak ombak pantai selatan seperti
ini. Segera ku tarik lengan Nadine meninggalkan tribun penonton
stadion Kanjuruhan, Malang yang semakin bergelora membakar semangat
para pemain Arema. Nadine mengikuti langkah kakiku dengan heran
mengingat bagaimana berderu nya aku tadi untuk mengajaknya kesini dan
sekarang meninggalkan pertandingan begitu saja, tanpa secuil alasan
pun.
“Ra, pelan-pelan dong jalannya. Ada
apaan si, kaya di kejar orang gila aja kamu.” Teriak Nadine guna
menyaingi seruan penonton.
Tak ku hiraukan ocehan Nadine dan
terus ku seret tangannya melewati bangku penonton satu demi satu
dengan langkah sangat cepat, lebih mirip disebut lari sepertinya.
Rasanya bak terbebas dari jeruji besi selama berabad-abad begitu
menginjakkan kaki di luar stadion. Ku hirup nafas panjang beberapa
kali dan ku hembuskan sangat pelan, sepelan siput ketika berjalan.
Tawaku meledak saat menumbukkan mata pada sosok Nadine yang tak
karuan rupanya. Rambut ikalnya melenggang ke segala arah tersaput
angin malam, membuatnya terlihat kribo. Belum lagi maskaranya luntur
terkena keringatnya sendiri. Perutku sampai nyeri melihat Nadine
kebingungan dan kesal karena aku menertawakannya membuat kami jadi
sorotan sekumpulan spesies manusia.
“Rese tau ngga sii kamu! Nyebelin.
Tau gitu mending ngga aku temenin kesini tadi. Huh. Belum selese
pertandingannya malah uda cabut.” Nadine memonyongkan bibirnya
melukiskan kekesalannya.
“Haha. Ngaca
deh kamu. Haha. Sorry tadi aku keburu banget. Besok aku ada kuis nya
pak Widodo di kelas sastra, aku belum belajar sama sekali, aku baru
inget tadi. Haha.” Meskipun terselip rasa bersalah dalam hatiku,
namun tawa ini tak mampu ku pasung barang sekejap pun. Tak apa lah,
pasti sohib ku ini mempunyai kabel-kabel pararel yang tersambung di
hatiku dan mengerti jika aku hanya bergurau semata.
“Uda ratusan
kali sejak kenal kamu aku di giniin pas nemenin nonton bola, tapi kok
aku mau terus sii di kerjain kamu. Uhh,” Tangan terawatnya mencari
cermin antiknya di tas sambil mengayunkan kaki, meninggalkanku yang
masih tak juga berhenti dalam tawaku. Jarinya mulai merapikan rambut
dan menghapus corengan maskara di pipi ranumnya.
“Aduh Nadine
sayang, jangan ngambek dong. Haha. Lagian kamu nonton bola pake
dandan, rambut juga keriting salon dulu. Kaya aku gini dong, baju
kebanggaan kuliah, gamis plus pashmina trus bedak tipis-tipis aja.
Haha.” Dengan senyum yang tetap merekah aku menyusul Nadine menuju
mobilnya. Aku paham Nadine, dia sudah seperti lebih dari saudara
bagiku (apa yah? Hehe), satu setengah tahun tinggal satu rumah,
berangkat dan pulang kuliah di Brawijaya pun satu mobil, satu
fakultas, namun beda jurusan. Dia sangat jenius dalam bidang sastra
jepang sedangkan aku lebih ke english.
“Kamu yang aneh,
Miss Sharadiva Ivanowsky, masa nonton bola pake gamis? Hmm? Haha.
Emang di kota asalmu, Kudus sana, gitu yah? Haha” Ledekannya
berbalik menonjokku saat sudah duduk manis di sebelahku. Tuh kan, apa
aku bilang tadi, dia tak akan betah lama-lama memonyongkan bibirnya.
Ku injak pedal gas dengan keras, membuat Nadine meluncurkan sumpah
serapah karena kekagetannya. Aku tertawa puas melihatnya kembali
menggerutu.
------------------------------------------
Embun pagi
menyapaku begitu kubuka jendela kamar di pagi yang indah.
Burung-burung liar tersenyum kepadaku sambil mengepakkan sayapnya
dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Aku sangat mencintai rumah
ini, tak tersentuh polusi kota Malang dan tak terdengar tangisan
jalan raya khas kota besar. Sejauh mata memandang, hanya terhampar
berpuluh-puluh hektare perkebunan buah. Rumah yang menjadi sengketa
pada awal perjumpaanku dengan Nadine, dan akhirnya kami memilih
menyewanya berdua hingga saat ini. Satu persatu ku bereskan barang
yang berserakan di kamarku, yang semuanya berbau Arema.
“Sha, kalo pas
basuh muka bacanya apah?” tiba-tiba seraut wajah kusut nongol di
depan pintu kamar. Nadine dengan wajah bangun tidurnya bertanya penuh
harap.
“udah aku
tempelin tadi malem di samping kran air. Pasti belum liat kan? Gih,
shubuhan dulu, uda jam 6.” Ku rantai tawaku semampuku demi melihat
perjuangan Nadine untuk berwudhu.
Hampir saja aku
melupakannya, Nadine dulunya adalah kristiani yang sangat ta’at.
Setiap Minggu, dia selalu rajin menampakkan diri di gereja terdekat.
Jujur saja, tak pernah terbersit setitikpun dalam fikirku bahwa
Nadine akan menjadi akhwatku dalam islam. Semenjak pertama tinggal
dengannya, dia memang sudah memberondongku dengan bombardir
pertanyaan seputar islam untuk menghujatnya dengan jalan pikir
kristianinya, namun ternyata setahun kemudian Nadine mengucapkan dua
kalimat syahadat di masjid At-Taqwa dekat rumah dengan bimbingan
seorang Kyai. Subhanallah, aku pun tak kuasa menahan tangis dan
segera mengambur dalam pelukannya.
Christabel Nadine
Alexandra bertransformasi menjadi Nadine Fatimah Bilqisa. Keluarga
besarnya di Surabaya membebaskan memilih apapun dalam hidupnya,
membuat urusan menjadi selangkah lebih mudah. Hari-hari penuh
kekonyolan membimbingnya untuk mempelajari islam di mulai. Belajar
sholat dengan mendegarkan bacaannya dari ipod hingga tertidur dalam
sujud saat sholat Shubuh. Pada akhirnya aku hanya bisa tertawa
berguling-guling di lantai tak peduli di hujani tatapan-gue makan lo-
dari Nadine.
------------------------------
“Shara, aku
diajak Nick balik ke keyakinanku dulu. Aku uda nolak terus-terusan
tapi dia tetep maksa. Aku takut,” aku melihat mata Nadine yang
penuh kegalauan.
Aku benci
mendengar nama Nick. Selain karena dia selalu mengejek Arema dengan
viking-nya, di matanya, umat muslim juga sangat rendah, tak mempunyai
harga. Kuhirup aroma kopi J.Co dan menikmati sensasinya membelai
manja hidungku. Hujan deras sejak sore hanya menyisakan gerimis,
beberapa tetes mengenai kaca dan kusentuh seakan aku menyentuhnya
langsung tanpa perantara kaca. Ribuan kendaraan berlalu-lalang setiap
menitnya membuahkan pemandangan gemerlap lampunya. Sementara Nadine
masih memandangku dengan sejuta pantulan harap. Seleranya sama sekali
tak tergugah untuk sekedar melirik secangkir kopi di hadapannya.
“Allah pasti
lindungin hamba-Nya dine, pasti. Trust me! Aku juga bakal selalu ada
buat kamu. Kamu uda putusin Nick kan?”
“Ga segampang
itu Sha, Nick selalu maksa aku, seakan-akan neror aku. Dia ga pernah
mau aku putusin, tapi aku anggepnya kita uda putus,” Desahan nafas
Nadine terdengar berdengung di telingaku membuat kepalaku semakin
penuh sesak serasa akan meledak.
“Kita omongin
besok aja yah dine, mumpung Minggu. Kepalaku pusing banget, banyak
kerjaan di BEM yang belum selese, belum lagi mata kuliah yang ga
kekejar. Maaf,”
“iya gapapa Sha,
aku ngerti. Maaf uda bikin kamu tambah pusing yah. Sekarang kita
pulang aja, uda malem, biar aku yang nyetir,” Nadine beranjak dan
membantuku bangkit.
Ah, Nadine memang
berhati bersih, bak kertas kosong tanpa setitik tinta pun. Sahabat
macam apa aku ini, tak bersedia mendengar keluh kesah sahabatnya.
Esok hari masih bisa ku simak penuturannya.
------------------------
Rasanya hari sudah
beranjak siang ketika terbangun dari tidur yang sangat nyenyak malam
ini. Poster Yongki Aribowo, pemain Arema pujaan hati menyambutku
dengan senyuman manisnya. Aku melirik jam berlogo arema, dan
terbelalak melihat jarum pendek di angka 9 dan jarum panjang di angka
8. Selepas shubuh tadi, tak seperti biasanya aku kembali terpuruk ke
atas kasur. Astaghfirullah, jangan sampai terulang kembali.
Selembar kertas
asing tergeletak disamping jam Arema. Segera kupungut dan kubaca
dengan mata masih 5 watt.
Sha,
Nick ngajak ketemu aku jam 7 di gereja dket sini. Dia bilang mau
ngomong penting, juga dia katanya nyerah buat maksa aku balik k agama
yn dulu. Perasaanku gaenak. Kalo smpe jm stenngah 9 aku gabalik,
jemput aku. Thankz. –Nadine-
Jam setengah 9? Itu kan sejam yang
lalu. Aduh Shara, kamu telat! Ya Allah, lindungi saudaraku ini ya
Allah. Ku sambar gamis yang ada dan secepat kilat berlari menuju
gereja yang berjarak sekitar 1km dari rumah. Tak ku hiraukan betapa
nyerinya perutku yang masih kosong, tak termasuki apapun.
Misa pagi
sepertinya telah usai dan gereja mulai sepi. Ku langkahkan kaki
pelan, mengendap-endap menuju jendela samping gereja. Alangkah
terkejutnya melihat apa yang sedang terjadi di dalam gereja. Darahku
seolah berhenti mengalir dan kakiku membeku di tempat. Seorang gadis
yang tak lain dan tak bukan adalah Nadine sedang meronta melepaskan
diri dari cengkraman beberapa biarawati. Pastor separuh baya memegang
kepalanya dan membacakan alkitab. Sedangkan Nick dengan senyum
liciknya berdiri di samping Pastor. Aku tak tau itu apa, namun cuci
otak dan pembaptisan sepertinya!
Tanpa berpikir
panjang, aku melempar batu segenggaman tangan yang berserakan di
tanah ke arah jendela sebanyak tiga kali dan berlari menuju pintu
belakang memasuki gereja. Sang Pastor dan Nick menghentikan
kegiatannya dan memeriksa jendela. Pada saat itulah aku membabi buta
menyingkirkan para biarawati yang sedang menahan Nadine dan
menariknya lari melalui pintu depan.
Aku merasakan
kakiku melayang membawa Nadine menjauh dari tempat itu. Nick berlari
mengejar aku dan Nadine tanpa ampun sedikitpun. Jari-jari Nadine yang
ku genggam sangat dingin membuatku semakin cemas. Wajahnya pucat
karena ketakutan yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku menyeberangi
jalan raya begitu saja. Terdengar jeritan Nadine dan kerumunan
disekelilingku, dan gelap.
--------------------
Langit sore ini
mendung. Aku tau, bumi dan langitpun berduka atas kepergiannya.
Apalagi aku, sang sahabat. Gundukan tanah yang masih basah
mengisyaratkan bahwa penghuninya baru saja menempatinya. Batu nisan
bertuliskan Nadine Fatimah Bilqisa tertancap di atasnya. Hatiku pilu
menyadari nama tersebut adalah nama Nadine, sahabatku.
Kejadian di depan
gereja tiga tahun lalu merenggut hartaku yang sangat berharga, kedua
mataku untuk melihat warna-warni dunia dan Arema, tentunya. Namun tak
pernah terpercik rasa sesal di hatiku karena aku mampu melindungi
sahabatku, Nadine. Selama tiga tahun ini Nadine dengan sabar
merawatku dan mengajarkan mata kuliah bahasa inggris yang dengan
tekun sengaja dipelajarinya demi mengajarkannya kepadaku. Dia juga
dengan sabar mengetikkan skripsiku hingga hampir usai. Tak lupa,
laporannya mengenai seluruh sepak terjang Arema.
Tepat seminggu
yang lalu dokter Wijaya memberitahuku ada seseorang yang bersedia
mendonorkan matanya untukku. Alangkah berbunganya hatiku dan ku bagi
secercah harap itu pada Nadine. Aku tau dia juga ikut tersenyum
meskipun aku tak dapat melihatnya. Segera esoknya, aku memasuki ruang
operasi dan menerima kedua mata dari orang yang sangat mulia tersebut
yang tak aku ketahui.
Ada yang hilang
semenjak aku keluar dari ruang operasi, sesuatu yang amat berharga
melebihi kedua mata baruku. Nadine hanya sesekali memasuki ruanganku
dan itupun hanya untuk sekedar menyapaku pelan kemudian menghilang
kembali. Ingin ku lepas perban di kedua mataku segera agar bisa
melihat wajah cantik Nadine kembali setelah tiga tahun lebih.
Dan pagi tadi,
akhirnya aku dapat menikmati pelangi dunia namun aku tak menemukan
sosok Nadine begitu membuka mata! Ku tanyakan pada setiap orang dan
ternyata jawabnya ada di batu nisan ini. Batu nisan dihadapanku. Aku
bersimpuh di samping makam belahan jiwaku dan dengan tangan bergetar
membuka surat yang dititipkan pada Bunda.
Sharadiva
Ivanowski. Aku merasa heran pertama kali mendengar namamu. Terdengar
seperti orang Rusia mungkin? Ah, yang jelas bukan Indonesia yah,
hehe. Saat kamu membaca suratku ini, mungkin aku sudah tenang oleh
doamu Sha.
Kita
seperti mata dan tangan Sha. Jika tangan terluka, maka mata akan
meneteskan air mata dan jika mata meneteskan air mata, maka tangan
akan mengusapnya dengan lembut. Iya kan? Aku berharap kamu jadi yang
terbaik, meskipun tanpa aku.
Mataku
ini sebagai ganti matamu yang lenyap saat kamu menyelamatkan hidupku.
Kamu pahlawan Sha. Tetapi tak usahlah kamu merasa bersalah, karena
aku memang mengidap kanker otak dan sudah tiba waktunya kembali pada
Yang Maha Kuasa. Toh mataku ini tak berguna di alam kubur nanti kan?
Kamu
tau Sha? Aku sudah mengenakan busana sepertimu semenjak kecelakaan
yang merenggut matamu. Banyak rintangan ku hadapi namun tak mampu
menggoyahkan tekadku menjadi muslimah sejati sepertimu. Semoga saja
aku dapat mempertahankannya hingga akhir aku menutup mata, Insha
Allah.
Maaf
Shara, aku hanya bisa membuat hidupmu menderita karena mengenalku.
Tetapi kamu adalah berlian dalam hidupku. Karena kamu, aku mengerti
arti berbagi, karena kamu aku mengerti arti berjuang, karena kamu aku
mengerti arti hidup dan karena kamu aku mngenal cahaya indah, Islam.
Rasa
terima kasihku selalu terhembus melalui embun di setiap pagimu. Jika
langit menangis, akupun sedang menangisi semua kebaikanmu yang tak
mampu aku balas. Jika langit berbinar, akupun sedang berbinar
mengingat semua tentangmu dan Arema-mu.
Sahabat Sehati,
Nadine Fatimah Bilqisa
Walyatalattovvic
The PrincessHadna
XII
Religion Program
Pernah di Publikasikan di majalah El-BA
Cerpen : Empat Serdadu Perang
Empat Serdadu Perang
Aku termenung dalam kesendirian. Sungguh sunyi malam ini. Di sisi terlelap bidadari kecilku, Khansa yang baru mengenyam pendidikan taman kanak-kanak. Bola mataku tertumbuk pada sebuah foto di meja rias. Sendu segera mencoba mendobrak pagar pertahananku. Pecahan-pecahan Kristal bening hamper pecah di pelupuk mata. Tak mampu lagi ku tutupi tabir ini. Aku rindu padanya. Gelombang rindu yang begitu dahsyat menghantam dinding hati.
Yah, aku sangat merindukannya, Abi Ilham. Aku yakin, saat ini Abi telah merengguk manisnya iman, buah dari amal ibadahnya selama menghirup udara dunia yang fana ini. Kecelakaan kereta api di daerah Pemalang, Jawa Tengah dengan teganya merenggut abi dari bahtera rumah tangga yang kita bangun selama 18 tahun lebih. Tak puas dengan merebut abi dari hidupku, kecelakaan itupun dengan sadisnya membawa serta kedua kaki buah hatiku, Habib. Remaja sebelas tahun harus mendekam tak berdaya dibalik jendela selama hidupnya. Akupun rasanya tak mampu.
Ya rabb, sungguh ujian yang tak ternilai bagiku. Andai aku tak memiliki setetes iman di hati, mungkin kini aku sudah terombang-ambing di tengah luasnya samudera kehidupan. Aku harus berjuang seorang diri menghidupi empat putra-putri, juga pastinya stigma masyarakat tentang status janda. Aku menulikan telinga sendiri terhadap gunjingan masyarakat sekitar yang tiada henti. Apakah seorang janda selalu identik dengan apapun yang negative?
Atmosfir bumi semakin menipis membuat udara kota Demak semakin berasap, tak terkecuali tengah malam seperti ini. Badanku lelah sekali rasanya, namun mata ini tak kunjung di datangi kantuk. Seharian menjaga toko kecil peninggalan abi dan melayani berbagai watak pembeli tak hanya membuat fikiranku terkena virus, tetapi tubuh ini juga berdemo menuntut waktu istirahatnya.
Tak jarang, putra sulungku, Fahmi, rela mengorbankan waktu belajarnya demi baktinya padaku. Ingin sekali ku larang, tapi apa daya, tekadnya lebih kuat. Seharusnya dia menghabiskan hari untuk belajar dan bermain layaknya remaja SMA seusianya, bukan mengais rupiah demi rupiah bersamaku. Aku memang seorang Umi yang tidak amanah.
--------------JJJ--------------
“umi, bangun mi. udah sholat shubuh kah?” tepukan tangan Fahmi sangat lembut membelai pipi.
Astaghfirullah, aku terlelap dengan mukena masih melekat. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 04.30 pagi. Segera ku lepas mukena dan bergegas mengambil air wudhu diiringi tatapan heran Fahmi, Habib, dan Faisal.
“Umi ketiduran abis Qiyamul Lail yah?” Tanya Faisal selagi membentangkan sajadah untukku.
“Iya anakku sayang. Umi ketiduran. Udah ayo Fahmi, mulai jamaahnya.”
Seusai Sholat, rasa Syukur tak ada habisnya kupanjatkan pada Illahi Rabbi karena telah menitipkan putra-putra yang begitu Shalih keapadaku. Fahmi sudah mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya dalam segala hal. Habib dengan keterbatasannya tak pernah meluncurkan sepatah kata keluhanpun dari bibirnya meski harus berjamaah di atas kursi roda. Faisal, buah hatiku yang baru berusia 8 tahun mampu memotong waktu tidur untuk berjamaah Shubuh.
Ku tinggalkan ketiga jagoan kecilku belajar membaca ayat demi ayat Alqur’anul Karim dengan bimbingan Fahmi. Pekerjaan rumah menumpuk merayuku untuk segera diselesaikan. Tak lupa kubenahi selimut Khansa sebelum menutup pintu kamar pelan.
Sebenarnya malas itu selalu hinggap di pagiku. Namun apa jadinya jika ku persilahkan malas merajalela mengobrak-abrik segudang aktivitas kewajibanku. Gunungan cucian kotor mengganggu arah pandangku. Tak tega jika cucian sebanyak itu harus di cuci khadim yang setiap hari membantu mengurusi rumah, Mba ita. Tak ada salahnya aku bantu menyicil mencuci sambil memasak sarapan untuk anak-anak. Mba Ita pasti juga mempunyai pekerjaan yang lebih berat dirumahnya sendiri. Dia pun datang pukul 8 hingga pukul 12 siang saja.
Bingung akan mengolah apa pagi ini. Bahan makanan yang ada hanya tinggal sisa. Lalu bagaimana perut anak-anakku yang membutuhkan asupan energy. Sebuah ide mengetuk jalan fikirku. Ayam betina di kandang belakang sudah saatnya bertelur. Untuk kali ini saja aku merebut hak asuh induk ayam, demi kelangsungan hidup keluarga kecilku.
-------------JJJ--------------------
Berat hati kulepas kepergian Fahmi, Faisal dan Khansa. Dengan satu-satunya sepeda motor yang dimiliki, Fahmi tak jenuh mengantar Faisal dan Khansa menginstall ilmu pengetahuan. Bahkan Fahmi seringkali menerima pahitnya hukuman akibat terlambat memasuki gerbang sekolah. Semoga Allah memberi banyak kebaikan kepada Fahmi mengingat pengorbanannya.
Hatiku serasa teriris mata pisau kala ku dapati Habib memandang kepergian saudaranya mengkaji ilmu dari balik kaca jendela. Tak kuasa menahan buliran air mata yang terjatuh mulus melewati pipi. Ku usap air mata ini sebelum Habib sempat melihat dan mendorong kursi rodanya menuju kamar untuk beristirahat.
Kini saatnya aku membuka toko dan memulai hari mencari rizki yang halal demi menyekolahkan anak-anak hingga sukses sesuai keinginan Abi dulu. Semoga Alllah berkenan mengabulkan niatku ini.
Memang tak seberapa toko kecil peninggalan Abi. Hanya bangunan yang menyatu dengan rumah yang diisi dengan berbagi perlengkapan menangkap ikan. Daerah ini memang daerah pesisir yang notabene mata pencaharian penduduknya adalah pemburu ikan. Tepat jika dulu Abi membangun toko Barokah, sebagai alat untuk membantu para nelayan memenuhi kebutuhan. Tak perlulah jauh-jauh ke pusat kota Demak.
Suara lantunan ayat suci menyapa gendang telinga. Pastilah itu Habib. Ya rabb, betapa mulianya anakku ini. Ujian dariMu pun tak sanggup membendung cita-cita masa kecilnya sebagai penghafal AlQur’an. Dalam setiap Qiyamul Lail tak pernah kulupa memanjatkan doa untuk Habib, malaikat kecil calon pelestari kitabMu.
---------------JJJ-----------------------
“Assalamualaikum Umi,” teriak Fahmi memasuki depan rumah yang merangkap sekaligus sebagai toko.
“Waalaikum salam sayang. Gimana tadi sekolahnya?” jawabku setelah menmberi kembalian pada salah satu pembeli dengan senyum menghiasi bibir. Tak terlewat kuluncurkan ucapan terima kasih.
“tadi hampir aja telat mi, tapi untungnya guru piket hari ini baik banget. Hehe” Ucap Fahmi seraya mengecup tanganku lembut, “Fahmi ganti baju dulu yah mi, tar biar Fahmi yang gantiin Umi jaga toko. Umi capek kan? Hmm?”
“Gausah sayang, Umi ngga papa ko. Malah kamu yang capek abis se ….”
“Umiku sayang, uda deh, nurut sama Fahmi buat satu hal ini,”
Percuma saja aku membantahnya lagi, seperti yang sudah lalu, Fahmi selalu saja ngotot menggantikanku menjaga toko. Akhirnya kubiarkan Fahmi masuk kedalam rumah dan mengganti seragamnya.
Perih memandang anak-anak yang semestinya tinggal belajar, belajar dan belajar harus rela melelahkan dirinya sendiri hanya untuk meringankan beban Uminya. Teringat gunjingan ibu-ibu tetangga siang tadi saat aku berbelanja. Duh gusti, aku memang seorang ibu yang tidak becus, malah melibatkan anak-anak untuk memperoleh sesuap nasi.
Tanpa kusadari ternyata sedari tadi Faisal telah duduk manis di sisi sembari melihat acara TV favoritnya pada sore hari, Benteng Takeshi. Ku usap kepalanya dengan lembut dan menyandarkannya di pundak.
“Umi, Ical pengen punya Abi lagi dong, malu di ledekin temen-temen,”
Lontaran khas anak kecil seakan menohok hatiku. Pelan namun sangat menusuk dan meninggalkan luka. Luka itu membuka diri kembali dan semakin bertambah dalam. Sayatan-sayatan kecil yang selama ini menggores hati berubah menjadi luka menganga, dalam dan lebar.
“Ical kan punya Umi, Abi uda nunggu kita disurga nanti.Ical sabar yah,” kembali kuusap kepalanya pelan.
“Iya mi, kenapa Umi ngga nikah lagi? Kitakan ngga tega liat umi tiap hari harus capek-capek demi kita,” Fahmi tiba-tiba muncul dan makin membuat luka ku semakin dan semakin dalam.
“Umi cuma pengen mendidik kalian semampu Umi, sampe kalian sukses semua. Umi udah ngga mikir diri umi sendiri sayang,” ku coba tersenyum sebijaksana mungkin di depan Fahmi dan Faisal meskipun hatiku teriris sembilu
“Liat deh, Umi masih cantik banget. Banyak orang mau lamar umi, eh tapi umi tolak semua tuh.” Timpal Fahmi diikuti anggukan Faisal yang sebenarnya tak mampu memproses maksud dalam otaknya.
Anak-anakku memang benar, tapi mereka tak akan pernah mengerti begitu kuatnya Abi Ilham terpatri dalam hatiku dan tidak akan ada yang mampu mengusirnya jauh-jauh. Bukannya aku tak mendengar omongan-omongan miring dari ipar-iparku juga melihat tatapan sinis mereka pada keluarga kecilku. Itu semua di sebabkan di mata mereka kami adalah keluarga miskin dan tak sederajat lagi dengan mereka. Astaghfirullah.
Dari semua iparku, hanya keluarga kamilah yang hidup penuh kesederhanaan. Jauh sebelum Abi Ilham di ambil sang Khalik, boleh dibilang kehidupanku memang lebih dari cukup. Sekarangpun tidak jauh berbeda. Hanya saja aku harus memutar otak bagaimana aku bisa bertahan mengeluarkan rupiah demi rupiah untuk anak-anak hingga kelak mereka menuai sukses. Jika aku juga diambil, bagaimana nasib mereka? Hanya toko Barokah lah andalanku satu-satunya.
Toko ini memang mulai agak sepi semenjak kepergian Abi. Tak mudah mengelola kepercayaan pelanggan kepada Abi dulu. Seringkali mereka tak puas dengan kinerjaku. Apa mau di kata, aku bukanlah Abi dengan segala kesahajaannya. Aku hanyalah Ibu Rumah tangga yang membanting stir menjadi wiraswasta. Biarlah orang menyenandungkan apapun tentangku sesuka mereka. Hanya aku dan Allah lah yang tau apa dibalik tabir hidupku.
------------------JJJ--------------------
“Maaf pak, untuk saat ini dan esok, saya hanya ingin membesarkan anak-anak saya dan melihat mereka semua menjadi orang sukses,” dengan halus ku tolak lamaran pak Burhan, perangkat desa Bonang.
“Ibu Zainab ini ngga bersyukur ya, masih bagus saya melamar Ibu. Daripada Ibu di gunjing orang dan di tuduh janda genit? Saya ngga tega bu. Udahalah terserah Ibu saja. Makan tuh anak-anak dan cinta mati Ibu. Miskin dan ngga tau diri.” Sumpah serapah terlontar dari mulut pak Burhan seraya melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Astaghfirullah. Lindungi hambaMu ini dari fitnah-fitnah manusia tak berhati nurani di muka bumi ini. Ingin rasanya kembali ke pangkuan Ibu di sudut kota Surabaya dan menumpahkan semua perih yang ku telan. Begini nasib jauh dari kampung halaman dan tak mempunyai sanak saudara kecuali ipar-ipar dengan gerbang rumah menjulang tinggi, dan bahkan aku yakin mereka takkan sudi membukkakan pintu sekedar mendengar rintihan pilu hidupku.
Dan airmata yang mengambang di pelupuk mata tak mampu ku bendung lagi. Khansa melangkah dari pintu kamar dengan wajah kusut bangun dari tidur siangnya. Fahmi, Faisal dan Habib yang sedari tadi mengintip dibalik pintu ruang tengahpun beranjak. Setelah sekian lama ku sembunyikan butiran-butiran air mata dari bola mata anak-anakku, akhirnya kini mereka merasakan betapa nestapa hidup sebagai seorang janda.
Satu persatu mereka menangis dan memelukku. Menikmati symphoni yang mengalun indah, menghiburku sejenak dari derita. Khansa yang aku yakin tak mampu menyerap apa yang sebenarnya terjadi hanya menangis di pangkuan. Mungkin Fahmi satu-satunya yang dapat memahami gejolak dalam hati ini.
Tekadku sudah bulat. Aku tetap menjaga dan memupuk cinta kasih yang telah di tanam Abi selama belasan tahun serta menjadikan empat serdadu perang ku sukses melewati medan jihad sekeras apapun itu. Keyakinan akan terwujudnya impian-impianku menari dengan jelas dihadapan mata. Bismillah. Ada Allah dalam relung hatiku.
----------------JJJ----------------
Suasana di halaman aula kampus sangat riuh dengan hadirnya ratusan keluarga mahasiswa yang akan resmi dinobatkan sebagai sarjana.
“Bu dokter, periksa hatiku dong. Haha.” Faisal dengan mimik lucu menggoda Khansa yang hari ini di wisuda menjadi seorang dokter dari Universitas Indonesia.
“Umi, ka Ical jahat tuh,” Khansa menggamit lenganku dan menunjuk ke arah Faisal yang menampakkan cengiran kudanya dibalik kursi roda Habib.
Bayi mungil Ilmi berusia 11 bulan dalam gendonganku menggeliat bangun dan mengerjap-ngerjapkan mata sipit keturunan Uminya. Ilmi adalah putri kedua buah keturunan Fahmi dengan istrinya, Ilma. Wajah polosnya mengingatkanku dengan Khansa di waktu kecil. Kala aku harus membesarkannya seorang diri tanpa siapapun kecuali kakak-kakak Khansa sendiri.
“Sini umi, biar Ilma aja yang ganti gendong Ilmi. Tuh Fahma nangisnya udah berhenti, udah sama abinya. Ilmi berat kan, kasian umi. Hehe” Ilma mengambil alih Ilmi dan menidurkannya kembali dalam pelukannya.
Mataku menelusuri seluruh serdadu-serdadu perangku yang telah berhasil menerjang berbagai serangan di medan perang. Fahmi kini merubah dunia dengan tulisan-tulisan filosofisnya yang fenomenal di dampingi belahan jiwanya, Ilma. Menjadi dai sekaligus seorang Hafidz memang sangat pantas disandang Habib meskipun sisa hidupnya harus dihabiskan di atas kursi roda. Tak habis sampai disitu, Faisal juga mempersembahkan buket bunga sangat indah untukku sebagai dosen Psikologi di universitas yang menjadi naungan Khansa selama empat tahun lebih.
Dan hari ini, lengkaplah sudah kepingan hidup yang kurangakai selama ini, walau terasa pincang karena tak ada Abi disisi. Khansa memilih jalan hidupnya sebagai penyelamat nyawa orang lain dan bercita-cita membangun rumah sakit bagi orang tidak mampu di kota Demak. Sungguh bahagia tiada tara dapat menyaksikan anak-anakku menyesap manisnya kehidupan di dunia. Tak hanya di dunia, di akhirat kelak pun aku berharap mereka dapat menyeberangi Sirathal Mustaqim secepat kilat.
Mungkin sekarang aku sudah pantas disebut eyang dengan dua cucu dari Fahmi. Usiaku sudah menginjak kepala enam dan ajal bisa saja menjemputku kapan saja sesuai takdir yang telah di gariskan di Lauhil mahfudz. Andai ajal itu menarik rohku keluar detik ini juga, aku ikhlas. Impian ku melihat anak-anak meneguk kehidupan yang lebih baik telah terwujud. Aku mampu tersenyum bahagia jika kelak bertemu abi dan memperlihatkan buah perjuanganku di hantam kerasnya ombak kehidupan.
Abi, lihatlah serdadu-serdadu perang kita. Mereka menggapai asa nya masing-masing di tengah hiruk-pikuk medan perang. Terima kasih karena telah menanamkan benih cinta segitu dalamnya dalam palung hati hingga aku tetap mampu berdiri tegak dipusaran angin yang mengobrak-abrik hidupku. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan dengan hati, akupun menerimanya dengan hati, dan anak-anak kubesarkan dengan hati pula.
Maafkan diriku jika belum bisa mempersembahkan apa yang ingin engkau raih dulu. Hanya ini yang mampu aku rengkuh dalam tubuh ringkihku. Aku sangat berharap di atas sana engkau tersenyum dan menampakkan binarnya seperti binar mataku dan serdadu-serdadu kita.
Kudus, untuk Abi, Umi dan Zaza.
Terinspirasi oleh seorang ibu yang sangat sabar mendidik anak-anaknya meskipun tanpa suami di sisinya. Dan salah seorang putranya yang sangat berbakti di sudut kota Demak.
Walyatalattovvic the PrincessHadna
Cerpen : Putih abu-abu ku!
Putih
Abu-abu ku
Mataku sayu
melihat tetesan gerimis di jendela kamar. Jam menunjukkan pukul 01.30
dini hari. Tetes demi tetes turun melewati kaca jendela dan akhirnya
berlabuh ke dalam tanah. Alangkah sederhananya hidup jika di
ibaratkan sebagai tetesan gerimis, yang jatuh dan kemudian meresap ke
tanah. Hidup manusia harus tetap naik atau akan jatuh di telan bumi.
Seperti hidupku ini, sedang di ambang batas.
Baru saja seminggu yang lalu aku
tertawa ceria memandang matahari dengan tegap, tanpa takut akan
sinarnya. Berjuta mimpi aku gantungkan pada langit malam untuk
memberikan penerangan bagi hidupku. Dan masih ku ingat betapa
yakinnya aku menjawab pertanyaan Zahra kala itu.
“lulus dari sini mau kemana mi?”
tanya Zahra mengagetkanku yang sedang menulis rancanagn redaksi
majalah sekolah, An-Nisa magz.
“emm, aku mau ambil Hubungan
Internasional di UGM.” Jawabku mantap
“wah, aku juga. Nanti bareng loh
yah,”
Aku hanya tertawa menanggapi Zahra
Dan itu seminggu yang lalu, bukan
sekarang. Saat aku meringkuk dibawah selimut tebal dalam
kesendirianku. Kejadian yang bertubi-tubi menimpa hidupku seakan
menyedot seluruh semangat yang ada dalam diriku.
Pikiranku memaksa aku kembali
mengingat kejadian tadi pagi. Hatiku pilu melihat Bunda menangis
dihadapanku. Seharusnya aku yang menerima hukuman ini, bukan Bunda
dan Ayah. Aku yang selama ini tak pernah bersyukur atas semua
limpahan nikmat-Nya , selalu merasa kurang, kurang, dan kurang.
Perputaran mata uang di tanganku berlangsung sangat cepat bak pesawat
jet tempur Amerika yang menggempur umat muslim di Gaza.
Astaghfirullah. Aku tak pernah berfikir berapa tetes keringat yang
mengucur untuk memenuhi kebutuhanku.
Santri. Yah, aku adalah seorang santri
di sebuah perguruan islam putri ternama di kudus, An-nisa. Di saat
aku sedang memburu ilmu, Ayah dan bunda melancong ke ibukota untuk
suatu urusan, segerombolan orang biadab membobol rumahku. Tak
tanggung-tanggung mereka berhasil membawa kabur ratusan juta rupiah
dan sejumlah perhiasan bunda.
Ya Rabb, aku percaya Engkau akan
membalas mereka dengan balasan yang setimpal. Tapi bagiku itu tak
akan cukup membayar air mata Bunda ku yang sangat mulia, calon
bidaadari surga untuk Ayah. Bunda adalah wanita paling berharga dalam
hidupku yang selalu memberiku asupan semangat dan tak henti-henti
membenarkan kesalahanku.
Satu hal lagi yang membuatku
terjatuh. Kata-kata yang serasa membunuh berbagai harapan indah masa
depan. Kata ‘aku bosen sama kamu. Aku pengen cari cewe lain lagi’
dengan mudahnya terlontar dari mulutnya. Seseorang yang membuat
hidupku lebih berwarna dan namanya sudah terpatri kuat dalam hatiku,
Fikri sang ketua OSIS Salafi, sekolah putra di lingkungan An-Nisa.
Semua memang salahku, sudah jelas berhubungan dengan lawan jenis
dilarang syariat, tetapi aku masih saja nekat menembus tembok
peraturan yang menjulang tinggi. Dia telah memberiku bunga-bunga
indah namun pada akhirnya kaktus berduri lah yang kekal di hat.
--------------------------------------------------
Kembali pada kenyataan,dalam gelap
malam dibawah selimut tebal. Mataku melirik segelas susu yang tadi
disuguhkan Aulia, Zahra, Nabil, dan Ocha. Mereka adalah penopangku
saat ini. Aku tak tau harus bagaimana andai saja mereka
meninggalkanku sperti Fikri yang meninggalkanku di saat aku terpuruk.
Tanpa mereka, mungkin aku akan terus meneteskan air mata. Masih
terngiang ucapan Nabil sebelum meninggalkan kamarku tadi.
“ aku pengen liat Ilmi yang pertama
kali nyapa aku. Wajah innoence dan impian yang menari-nari di
atasnya, cheer up ukhti.” Senyum manis terlukis indah diwajahnya.
Sementara aku hanya bisa tersenyum getir melihat langkahnya.
Jam berdentang dua kali dan memaksaku
melihat keadaan kamar. Semuanya telah terbuai indahnya mimpi. Mataku
menelusuri setiap sosok yang tertidur pulas di kamar. Mulai dari Ummi
yang keibuan, Lita dengan sikap slalu ingin taunya, Nurul yang
seolah-olah tau segalanya, Vina si kutu buku , Faiq sang leader, Lia
si cerewet, dan terakhir Mitha yang hobi makan.
Semua telah terbuai indahnya mimpi.
Sedangkan aku, untuk sekedar memejamkan mata saja rasanya tak
sanggup. Aku takut tidak akan pernah bisa membuka mata lagi. Aku
takut tidak akan bisa melihat sahabat-sahabat ku lagi, dan beribu
ketakutan yang menghantui, aku terlalu takut akan kenyataan hidup.
Saat terpuruk begini, aku merindukan
Cherry, buah favoritku. Aku suka sekali memakan cherry. Bunda selalu
menyediakan stok berkilo-kilo cherry di lemari pendingin di depan
pintu kamarku. Entah kenapa sejak kecil aku tergila-gila dengan buah
cherry. Bentuknya yang bulat sama seperti wajahku, warnanya merah
menggoda dan langka nya buah ini membuatku semakin menggilai cherry.
Ingin rasanya aku memakan satu keranjang cherry malam ini untuk
mengusir kegundahanku, andai bisa.
-----------------------------------------------
Jangan pernah
mengingat masa lalu. Sekarang tidak akan sama seperti dulu. Aku harus
berusaha keras memperoleh beasiswa kuliah. Itu harga mati. Tak tega
melihat wajah bunda berlinang air mata. Walaupun ayah dan bunda pasti
sanggup membiayaiku, aku sadar aku tidak boleh menggantungkan hidupku
pada mereka. Kita tidak selalu berada diatas. Semenjak kejadian itu,
aku harus merasa lebih bersyukur dan menghargai apapun yang diberi
Allah. Tidak ada jalan-jalan ke Mall, tidak ada karaoke ria dan tidak
ada bergosip ria sambil menikmati french fries, juga tidak ada
panggilan sayang dari fikri. Semudah ini hidupku diputar balikkan.
“ yang sabar yah. Kamu lebih baik
tanpa dia. Kamu harus fokus ke Ujian Nasional sama majalah sekolah.
Ngga mau nyusahin Bunda lagi kan? Harus dapet beasiswa loh. Pasti
kita bantu kok.” Ocha menepuk punggungku sesaat setelah pak Haris
meninggalkan kelas.
“makasih banyak Cha. Aku sering
banget ngerasa gak bisa bangkit lagi. Cobaan dateng bersamaan.
Padahal aku juga pusing mikirin UN sama An-Nisa’ Magz”
“ gak boleh gitu ah sayang! Ini tuh
Cuma proses biar ilmi lebih kuat dan dewasa.” Zahra ynag duduk
disampingku ikut menimpali. Nabil pun mengangkat jempolnya ke arahku.
“ kalo kamu terpaksa ninggalin
pelajaran demi An-Nisa Magz, Aulia pasti mau jadi guru private kamu.
Haha.” Celetukan Ocha membuat kita semua tertawa diikuti cemberutan
di wajah Aulia.
Terima kasih Ya Rabb, aku di anugerahi
sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Mereka tak hanya ada saat aku
tersenyum, tetapi juga saat aku berlinangan air mata menghadapi
pahitnya kenyataan hidup. Berbagai pengalaman suka maupun duka
menjadi makanan sehari-hari yang kita lahap bersama. Bolos pelajaran
di kantin, telat saat pemadatan, makan saat pelajaran bahkan
menjahili guru.
Beberapa bulan
yang lalu sempat ada jarak diantara kita. Aku yang terlalu sibuk
dengan OSIS dan Fikri, Ocha dan Zahra yang tak bisa menerima gosip
buruk tentang Nabil, dan Aulia yang memilih membela Nabil. Namun
karena ada benang merah di hati kita dan rasa sayang yang sudah
tercipta, kita kembali menyatukan asa bersama.
Bukannya aku tak tahu banyak mata
sirik melihat kita, hanya saja aku tak peduli. Biarlah apa kata orang
tentang kita. Mereka tidak akan tau kehidupan kita yang sebenarnya.
Selama ini mereka menganggap kita genk elite dan cantik. Bagiku
pendapat itu salah besar tanpa sebuah pemikiran. Merka tidak akan
pernah tau bagaimana terpuruknya aku sekarang. Hidupku yang serasa
sempurna dengan pacar ketua OSIS, aktivis di sekolah, genk elite, dan
seabrek limpahan nikmatnya. Tetapi sekarang berubah 180°.
Hidup itu benar-benar seperti roda, selalu berputar.
------------------------------------------
“ mi, emmm....... Nabil dituduh
nyuri uang 400ribu.” Bisik Zahra setelah susah payah menyeretku ke
lorong sepi perpustakaan.
“hah!!! Gak salah????? Nabil kan,,
ah,,,,,” gendang telingaku seakan tak terima mendengar berita itu.
Nabil si barbie baik hati, yang terpenuhi segalanya, mencuri uang??
Huft, mimpi apalagi ya Rabb.
“iya, aku juga gak percaya. Tapi
kata pak kiyai 75% pasti dia. Kalo dia emang bener nyuri, kita
nasehatin dia baik-baik. Tapi kalo dia yang difitnah, kita harus siap
bantu dia buktiin dihadapan pengurus.”
“ tapi mau gak mau kita tetep ada
perasaan gimana gitu sama nabil.” Ocha yang sedari tadi hanya
menyimak ikutmenyumbangkan suaranya.
“pernah dengerkan, sahabat sejati
adalah sahabat yang berkata benar pada kita, bukan hanya membenarkan
semua perkataan kita.” Aku teringat kata-kata dari sebuah buku
yang aku baca. Kata yang penuh arti mendalam.
Bel istirahat selesai berdering dan
memaksa kita menyudahi acara dari hati ke hati ini. Dengan langkah
gontai aku berjalan aku berjalan melewati petugas perpus yang
tersenyum ramah. Zahra menyeretku lagi ke loteng sekolah. Heran deh
anak yang satu ini, hobinya nyeret orang, gak sabaran lagi. Hoahm.
-------------------------------------------
Nabil terduduk lemas di hadapan Aulia,
Zahra, Ocha dan aku. Air mata mengalir di pipi ranumnya. Suasana
loteng yang sangat sepi karena sedang dilaksanakan KBM membuat isakan
Nabil terdengar jelas.
“Bukan aku yang ngambil. Billahi ..”
Ucapan sangat lirih keluar dari bibir mungil Nabil. Lebih tepat
disebut bisikan sepertinya.
“Alah, ngga usah boong deh bil!
Pasti kamu yang ngambil kan?” Teriak Ocha tiba-tiba mengejutkan
kita semua.
“Ocha!” Spontan aku, zahra dan
Aulia memandang Ocha tajam. Tak menyangka Ocha akan berkata menusuk
sperti itu.
“Kenapa sih kalian percaya Nabil?
Wajahnya aja yang Innocence, padahal hatinya busuk, sok cantik!
Denger yah, aku benci Nabil!” Kebencian tergambar jelas di wajah
Ocha yang menghentakkan kaki sebelum berlari menuruni tangga loteng.
Kenapa jadi seperti ini? Selama ini
Ocha selalu baik terhadap Nabil tetapi kenapa berubah seperti sebuah
pisau yang mengiris hati Nabil? Ah, ada apalagi ini? Haruskah
persahabatan ini juga hancur seperti hubunganku dengan Fikri? Lau
siapa yang akan menjadi tumpuanku selain mereka? Aku tak pernnah
bisa membayangkan kita akan hidup masing-masing, individu.
Mengahadapi kerasnya hantaman ombak sendiri, tanpa ada yang membantu
berdiri kembali.
Ya Rabb, masalah tak henti-hentinya
datang menghampiriku. Mungkinkah aku terlalu banyak berbuat dosa
sehingga tak cukup hanya satu cobaan untuk menegurku? Aku pasrahkan
semua kepadaMu Illahi Rabbi yang menguasai seluruh jiwa dan ragaku.
Aku hanya bisa berdoa semoga dengan adanya berbagai masalah dalam
hidupku membuatku semakin bersyukur kepada-Mu, mendekatkan diri
kepada-Mu dan membuatku semakin tegar setegar batu karang di laut
lepas.
--------------------------------------------------
Hari ini aku sangat bangga. Selempang
kelulusan bertuliskan XII Keagamaan bertengger manis di tubuhku.
Peringkat pertama di kelaspun aku boyong bersama penghargaan OSIS
lainnya. Tak luput, satu tiket beasiswa di UGM ada dalam genggaman
tanganku. Aku melihat Ayah dan Bunda tersenyum melihat putri
satu-satu nya, Haura Ilmi Cherryla melepas statusnya sebagai pelajar
di An-Nisa.
Aulia, Zahra dan Nabil menyambutku
dengan pelukan hangat selesai acara pelepasan. Camera digital di
tanganku dengan setia mengabadikan setiap momen terakhir antara kita.
Sementara aku lihat Ocha memalingkan muka begitu melihat kita tertawa
gembira.
Kenangan itu muncul lagi. Pengakuan
Ocha serta fitnah yang menimpa Nabil. Setelah kejadian di loteng,
aku, zahra dan Aulia bersepakat untuk mengusut siapa dalang di balik
masalah Nabil. Tak pernah terbersit dalam angan kita, orang yang
telah memfitnah Nabil tanpa perasaan adalah sahabat kita sendri, Ocha
sang pengkhianat tak berperasaan. Benih-benih persahabatan yang kita
tanam selama dua tahun lebih seolah-olah lenyap terbakar rasa benci
Ocha tanpa sisa. Rasa benci karena masalah sepele, laki-laki pujaan
Ocha ternyata menaruh hati pada Nabil. Ah, alangkah dangkalnya
pemikiran Ocha. Masalah yang terlalu sering menghancurkan sebuah
persahabatan terjadi padaku juga.
Tak pernah terfikir sebelumnya
persahabatan kita dengan Ocha akan berakhir tragis seperti ini.
Tetapi aku bahagia, aku masih punya Aulia, Zahra dan Nabil yang
selalu menyemangatiku untuk bangkit dari keterpurukan. Karena mereka,
aku berhasil menjadikan hidupku lebih bermakna. Semoga persahabatanku
dengan mereka akan kekal sampai maut memisahkan kita.^^
Kudus, 26 Oktober 2011
Tulus dari dalam hati untuk Abi dan Umi
dan seseorang yang tak pernah menganggapku bisa.
Langganan:
Postingan (Atom)