Jumat, 22 Maret 2013

Cerpen : Putih abu-abu ku!



Putih Abu-abu ku

Mataku sayu melihat tetesan gerimis di jendela kamar. Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Tetes demi tetes turun melewati kaca jendela dan akhirnya berlabuh ke dalam tanah. Alangkah sederhananya hidup jika di ibaratkan sebagai tetesan gerimis, yang jatuh dan kemudian meresap ke tanah. Hidup manusia harus tetap naik atau akan jatuh di telan bumi. Seperti hidupku ini, sedang di ambang batas.
Baru saja seminggu yang lalu aku tertawa ceria memandang matahari dengan tegap, tanpa takut akan sinarnya. Berjuta mimpi aku gantungkan pada langit malam untuk memberikan penerangan bagi hidupku. Dan masih ku ingat betapa yakinnya aku menjawab pertanyaan Zahra kala itu.
“lulus dari sini mau kemana mi?” tanya Zahra mengagetkanku yang sedang menulis rancanagn redaksi majalah sekolah, An-Nisa magz.
“emm, aku mau ambil Hubungan Internasional di UGM.” Jawabku mantap
“wah, aku juga. Nanti bareng loh yah,”
Aku hanya tertawa menanggapi Zahra
Dan itu seminggu yang lalu, bukan sekarang. Saat aku meringkuk dibawah selimut tebal dalam kesendirianku. Kejadian yang bertubi-tubi menimpa hidupku seakan menyedot seluruh semangat yang ada dalam diriku.
Pikiranku memaksa aku kembali mengingat kejadian tadi pagi. Hatiku pilu melihat Bunda menangis dihadapanku. Seharusnya aku yang menerima hukuman ini, bukan Bunda dan Ayah. Aku yang selama ini tak pernah bersyukur atas semua limpahan nikmat-Nya , selalu merasa kurang, kurang, dan kurang. Perputaran mata uang di tanganku berlangsung sangat cepat bak pesawat jet tempur Amerika yang menggempur umat muslim di Gaza. Astaghfirullah. Aku tak pernah berfikir berapa tetes keringat yang mengucur untuk memenuhi kebutuhanku.
Santri. Yah, aku adalah seorang santri di sebuah perguruan islam putri ternama di kudus, An-nisa. Di saat aku sedang memburu ilmu, Ayah dan bunda melancong ke ibukota untuk suatu urusan, segerombolan orang biadab membobol rumahku. Tak tanggung-tanggung mereka berhasil membawa kabur ratusan juta rupiah dan sejumlah perhiasan bunda.
Ya Rabb, aku percaya Engkau akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal. Tapi bagiku itu tak akan cukup membayar air mata Bunda ku yang sangat mulia, calon bidaadari surga untuk Ayah. Bunda adalah wanita paling berharga dalam hidupku yang selalu memberiku asupan semangat dan tak henti-henti membenarkan kesalahanku.
Satu hal lagi yang membuatku terjatuh. Kata-kata yang serasa membunuh berbagai harapan indah masa depan. Kata ‘aku bosen sama kamu. Aku pengen cari cewe lain lagi’ dengan mudahnya terlontar dari mulutnya. Seseorang yang membuat hidupku lebih berwarna dan namanya sudah terpatri kuat dalam hatiku, Fikri sang ketua OSIS Salafi, sekolah putra di lingkungan An-Nisa. Semua memang salahku, sudah jelas berhubungan dengan lawan jenis dilarang syariat, tetapi aku masih saja nekat menembus tembok peraturan yang menjulang tinggi. Dia telah memberiku bunga-bunga indah namun pada akhirnya kaktus berduri lah yang kekal di hat.
--------------------------------------------------
Kembali pada kenyataan,dalam gelap malam dibawah selimut tebal. Mataku melirik segelas susu yang tadi disuguhkan Aulia, Zahra, Nabil, dan Ocha. Mereka adalah penopangku saat ini. Aku tak tau harus bagaimana andai saja mereka meninggalkanku sperti Fikri yang meninggalkanku di saat aku terpuruk. Tanpa mereka, mungkin aku akan terus meneteskan air mata. Masih terngiang ucapan Nabil sebelum meninggalkan kamarku tadi.
“ aku pengen liat Ilmi yang pertama kali nyapa aku. Wajah innoence dan impian yang menari-nari di atasnya, cheer up ukhti.” Senyum manis terlukis indah diwajahnya. Sementara aku hanya bisa tersenyum getir melihat langkahnya.
Jam berdentang dua kali dan memaksaku melihat keadaan kamar. Semuanya telah terbuai indahnya mimpi. Mataku menelusuri setiap sosok yang tertidur pulas di kamar. Mulai dari Ummi yang keibuan, Lita dengan sikap slalu ingin taunya, Nurul yang seolah-olah tau segalanya, Vina si kutu buku , Faiq sang leader, Lia si cerewet, dan terakhir Mitha yang hobi makan.
Semua telah terbuai indahnya mimpi. Sedangkan aku, untuk sekedar memejamkan mata saja rasanya tak sanggup. Aku takut tidak akan pernah bisa membuka mata lagi. Aku takut tidak akan bisa melihat sahabat-sahabat ku lagi, dan beribu ketakutan yang menghantui, aku terlalu takut akan kenyataan hidup.
Saat terpuruk begini, aku merindukan Cherry, buah favoritku. Aku suka sekali memakan cherry. Bunda selalu menyediakan stok berkilo-kilo cherry di lemari pendingin di depan pintu kamarku. Entah kenapa sejak kecil aku tergila-gila dengan buah cherry. Bentuknya yang bulat sama seperti wajahku, warnanya merah menggoda dan langka nya buah ini membuatku semakin menggilai cherry. Ingin rasanya aku memakan satu keranjang cherry malam ini untuk mengusir kegundahanku, andai bisa.
-----------------------------------------------
Jangan pernah mengingat masa lalu. Sekarang tidak akan sama seperti dulu. Aku harus berusaha keras memperoleh beasiswa kuliah. Itu harga mati. Tak tega melihat wajah bunda berlinang air mata. Walaupun ayah dan bunda pasti sanggup membiayaiku, aku sadar aku tidak boleh menggantungkan hidupku pada mereka. Kita tidak selalu berada diatas. Semenjak kejadian itu, aku harus merasa lebih bersyukur dan menghargai apapun yang diberi Allah. Tidak ada jalan-jalan ke Mall, tidak ada karaoke ria dan tidak ada bergosip ria sambil menikmati french fries, juga tidak ada panggilan sayang dari fikri. Semudah ini hidupku diputar balikkan.
“ yang sabar yah. Kamu lebih baik tanpa dia. Kamu harus fokus ke Ujian Nasional sama majalah sekolah. Ngga mau nyusahin Bunda lagi kan? Harus dapet beasiswa loh. Pasti kita bantu kok.” Ocha menepuk punggungku sesaat setelah pak Haris meninggalkan kelas.
“makasih banyak Cha. Aku sering banget ngerasa gak bisa bangkit lagi. Cobaan dateng bersamaan. Padahal aku juga pusing mikirin UN sama An-Nisa’ Magz”
“ gak boleh gitu ah sayang! Ini tuh Cuma proses biar ilmi lebih kuat dan dewasa.” Zahra ynag duduk disampingku ikut menimpali. Nabil pun mengangkat jempolnya ke arahku.
“ kalo kamu terpaksa ninggalin pelajaran demi An-Nisa Magz, Aulia pasti mau jadi guru private kamu. Haha.” Celetukan Ocha membuat kita semua tertawa diikuti cemberutan di wajah Aulia.
Terima kasih Ya Rabb, aku di anugerahi sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Mereka tak hanya ada saat aku tersenyum, tetapi juga saat aku berlinangan air mata menghadapi pahitnya kenyataan hidup. Berbagai pengalaman suka maupun duka menjadi makanan sehari-hari yang kita lahap bersama. Bolos pelajaran di kantin, telat saat pemadatan, makan saat pelajaran bahkan menjahili guru.
Beberapa bulan yang lalu sempat ada jarak diantara kita. Aku yang terlalu sibuk dengan OSIS dan Fikri, Ocha dan Zahra yang tak bisa menerima gosip buruk tentang Nabil, dan Aulia yang memilih membela Nabil. Namun karena ada benang merah di hati kita dan rasa sayang yang sudah tercipta, kita kembali menyatukan asa bersama.
Bukannya aku tak tahu banyak mata sirik melihat kita, hanya saja aku tak peduli. Biarlah apa kata orang tentang kita. Mereka tidak akan tau kehidupan kita yang sebenarnya. Selama ini mereka menganggap kita genk elite dan cantik. Bagiku pendapat itu salah besar tanpa sebuah pemikiran. Merka tidak akan pernah tau bagaimana terpuruknya aku sekarang. Hidupku yang serasa sempurna dengan pacar ketua OSIS, aktivis di sekolah, genk elite, dan seabrek limpahan nikmatnya. Tetapi sekarang berubah 180°. Hidup itu benar-benar seperti roda, selalu berputar.
------------------------------------------
“ mi, emmm....... Nabil dituduh nyuri uang 400ribu.” Bisik Zahra setelah susah payah menyeretku ke lorong sepi perpustakaan.
“hah!!! Gak salah????? Nabil kan,, ah,,,,,” gendang telingaku seakan tak terima mendengar berita itu. Nabil si barbie baik hati, yang terpenuhi segalanya, mencuri uang?? Huft, mimpi apalagi ya Rabb.
“iya, aku juga gak percaya. Tapi kata pak kiyai 75% pasti dia. Kalo dia emang bener nyuri, kita nasehatin dia baik-baik. Tapi kalo dia yang difitnah, kita harus siap bantu dia buktiin dihadapan pengurus.”
“ tapi mau gak mau kita tetep ada perasaan gimana gitu sama nabil.” Ocha yang sedari tadi hanya menyimak ikutmenyumbangkan suaranya.
“pernah dengerkan, sahabat sejati adalah sahabat yang berkata benar pada kita, bukan hanya membenarkan semua perkataan kita.” Aku teringat kata-kata dari sebuah buku yang aku baca. Kata yang penuh arti mendalam.
Bel istirahat selesai berdering dan memaksa kita menyudahi acara dari hati ke hati ini. Dengan langkah gontai aku berjalan aku berjalan melewati petugas perpus yang tersenyum ramah. Zahra menyeretku lagi ke loteng sekolah. Heran deh anak yang satu ini, hobinya nyeret orang, gak sabaran lagi. Hoahm.
-------------------------------------------
Nabil terduduk lemas di hadapan Aulia, Zahra, Ocha dan aku. Air mata mengalir di pipi ranumnya. Suasana loteng yang sangat sepi karena sedang dilaksanakan KBM membuat isakan Nabil terdengar jelas.
“Bukan aku yang ngambil. Billahi ..” Ucapan sangat lirih keluar dari bibir mungil Nabil. Lebih tepat disebut bisikan sepertinya.
“Alah, ngga usah boong deh bil! Pasti kamu yang ngambil kan?” Teriak Ocha tiba-tiba mengejutkan kita semua.
“Ocha!” Spontan aku, zahra dan Aulia memandang Ocha tajam. Tak menyangka Ocha akan berkata menusuk sperti itu.
“Kenapa sih kalian percaya Nabil? Wajahnya aja yang Innocence, padahal hatinya busuk, sok cantik! Denger yah, aku benci Nabil!” Kebencian tergambar jelas di wajah Ocha yang menghentakkan kaki sebelum berlari menuruni tangga loteng.
Kenapa jadi seperti ini? Selama ini Ocha selalu baik terhadap Nabil tetapi kenapa berubah seperti sebuah pisau yang mengiris hati Nabil? Ah, ada apalagi ini? Haruskah persahabatan ini juga hancur seperti hubunganku dengan Fikri? Lau siapa yang akan menjadi tumpuanku selain mereka? Aku tak pernnah bisa membayangkan kita akan hidup masing-masing, individu. Mengahadapi kerasnya hantaman ombak sendiri, tanpa ada yang membantu berdiri kembali.
Ya Rabb, masalah tak henti-hentinya datang menghampiriku. Mungkinkah aku terlalu banyak berbuat dosa sehingga tak cukup hanya satu cobaan untuk menegurku? Aku pasrahkan semua kepadaMu Illahi Rabbi yang menguasai seluruh jiwa dan ragaku. Aku hanya bisa berdoa semoga dengan adanya berbagai masalah dalam hidupku membuatku semakin bersyukur kepada-Mu, mendekatkan diri kepada-Mu dan membuatku semakin tegar setegar batu karang di laut lepas.
--------------------------------------------------
Hari ini aku sangat bangga. Selempang kelulusan bertuliskan XII Keagamaan bertengger manis di tubuhku. Peringkat pertama di kelaspun aku boyong bersama penghargaan OSIS lainnya. Tak luput, satu tiket beasiswa di UGM ada dalam genggaman tanganku. Aku melihat Ayah dan Bunda tersenyum melihat putri satu-satu nya, Haura Ilmi Cherryla melepas statusnya sebagai pelajar di An-Nisa.
Aulia, Zahra dan Nabil menyambutku dengan pelukan hangat selesai acara pelepasan. Camera digital di tanganku dengan setia mengabadikan setiap momen terakhir antara kita. Sementara aku lihat Ocha memalingkan muka begitu melihat kita tertawa gembira.
Kenangan itu muncul lagi. Pengakuan Ocha serta fitnah yang menimpa Nabil. Setelah kejadian di loteng, aku, zahra dan Aulia bersepakat untuk mengusut siapa dalang di balik masalah Nabil. Tak pernah terbersit dalam angan kita, orang yang telah memfitnah Nabil tanpa perasaan adalah sahabat kita sendri, Ocha sang pengkhianat tak berperasaan. Benih-benih persahabatan yang kita tanam selama dua tahun lebih seolah-olah lenyap terbakar rasa benci Ocha tanpa sisa. Rasa benci karena masalah sepele, laki-laki pujaan Ocha ternyata menaruh hati pada Nabil. Ah, alangkah dangkalnya pemikiran Ocha. Masalah yang terlalu sering menghancurkan sebuah persahabatan terjadi padaku juga.
Tak pernah terfikir sebelumnya persahabatan kita dengan Ocha akan berakhir tragis seperti ini. Tetapi aku bahagia, aku masih punya Aulia, Zahra dan Nabil yang selalu menyemangatiku untuk bangkit dari keterpurukan. Karena mereka, aku berhasil menjadikan hidupku lebih bermakna. Semoga persahabatanku dengan mereka akan kekal sampai maut memisahkan kita.^^
Kudus, 26 Oktober 2011
Tulus dari dalam hati untuk Abi dan Umi dan seseorang yang tak pernah menganggapku bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar