Sharadiva’s
Screet Story
Buliran keringat
melewati pipi ku dengan mulus menambah guyuran semangat dalam diriku
untuk terus meneriakkan nyanyian suporter Arema Indonesia. Beberapa
pasang mata memandangku dengan sebelah mata. Ah, masa bodo dengan
mereka. Memangnya ada undang-undang yang mengharamkan gadis berjilbab
dan bergamis menonton bola di stadion? Tak ada! Dan jika aku menjadi
pejabat perancang RUU, itu takkan pernah ada! Camkan itu! Aku juga
mempunyai hak menyalurkan semangatku yang berkobar untuk klub idolaku
bukan? Miris hatiku, mengingat jika mereka melihat seorang gadis
berjilbab mengelayuti lengan kekasihnya dengan manja di keramaian
mereka juga tak bereaksi. Namun jika melihat aku disini, seolah
mereka sedang memandang gadis bercumbu di depan umum. Dunia memang
aneh, dan aku juga mungkin aneh karena dunia. Aku memang naif, yah,
naif.
“Gggooolll!!!” aku menciptakan
selebrasiku sendiri -menelungkupkan kedua tangan berkali-kali di muka
penuh keringatku sebagai tanda syukur- begitu melihat Noh Alamsyah
menyarangkan gol ke kandang Persib Bandung. Skor 3-1 untuk Arema pada
menit ke-54. Perfect result! Hatiku turut bergetar seolah kaki ku
yang memproduksi tendangan indah tersebut. Sohib kentalku semenjak
semester 1, Nadine, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat
besarnya rasa cintaku pada Arema Indonesia.
Sorotan mentari senja menegurku akan
waktu, segera kulirik jam yang melingkar manis di tangan kiriku. Wah,
gawat! Jam 17.55. Persiapanku masih nol besar menghadapi kuis dosen
killer esok hari. Aarrgghh, andai bisa dosen itu ku ajak kompromi,
tentulah hatiku tidak begemuruh bak ombak pantai selatan seperti
ini. Segera ku tarik lengan Nadine meninggalkan tribun penonton
stadion Kanjuruhan, Malang yang semakin bergelora membakar semangat
para pemain Arema. Nadine mengikuti langkah kakiku dengan heran
mengingat bagaimana berderu nya aku tadi untuk mengajaknya kesini dan
sekarang meninggalkan pertandingan begitu saja, tanpa secuil alasan
pun.
“Ra, pelan-pelan dong jalannya. Ada
apaan si, kaya di kejar orang gila aja kamu.” Teriak Nadine guna
menyaingi seruan penonton.
Tak ku hiraukan ocehan Nadine dan
terus ku seret tangannya melewati bangku penonton satu demi satu
dengan langkah sangat cepat, lebih mirip disebut lari sepertinya.
Rasanya bak terbebas dari jeruji besi selama berabad-abad begitu
menginjakkan kaki di luar stadion. Ku hirup nafas panjang beberapa
kali dan ku hembuskan sangat pelan, sepelan siput ketika berjalan.
Tawaku meledak saat menumbukkan mata pada sosok Nadine yang tak
karuan rupanya. Rambut ikalnya melenggang ke segala arah tersaput
angin malam, membuatnya terlihat kribo. Belum lagi maskaranya luntur
terkena keringatnya sendiri. Perutku sampai nyeri melihat Nadine
kebingungan dan kesal karena aku menertawakannya membuat kami jadi
sorotan sekumpulan spesies manusia.
“Rese tau ngga sii kamu! Nyebelin.
Tau gitu mending ngga aku temenin kesini tadi. Huh. Belum selese
pertandingannya malah uda cabut.” Nadine memonyongkan bibirnya
melukiskan kekesalannya.
“Haha. Ngaca
deh kamu. Haha. Sorry tadi aku keburu banget. Besok aku ada kuis nya
pak Widodo di kelas sastra, aku belum belajar sama sekali, aku baru
inget tadi. Haha.” Meskipun terselip rasa bersalah dalam hatiku,
namun tawa ini tak mampu ku pasung barang sekejap pun. Tak apa lah,
pasti sohib ku ini mempunyai kabel-kabel pararel yang tersambung di
hatiku dan mengerti jika aku hanya bergurau semata.
“Uda ratusan
kali sejak kenal kamu aku di giniin pas nemenin nonton bola, tapi kok
aku mau terus sii di kerjain kamu. Uhh,” Tangan terawatnya mencari
cermin antiknya di tas sambil mengayunkan kaki, meninggalkanku yang
masih tak juga berhenti dalam tawaku. Jarinya mulai merapikan rambut
dan menghapus corengan maskara di pipi ranumnya.
“Aduh Nadine
sayang, jangan ngambek dong. Haha. Lagian kamu nonton bola pake
dandan, rambut juga keriting salon dulu. Kaya aku gini dong, baju
kebanggaan kuliah, gamis plus pashmina trus bedak tipis-tipis aja.
Haha.” Dengan senyum yang tetap merekah aku menyusul Nadine menuju
mobilnya. Aku paham Nadine, dia sudah seperti lebih dari saudara
bagiku (apa yah? Hehe), satu setengah tahun tinggal satu rumah,
berangkat dan pulang kuliah di Brawijaya pun satu mobil, satu
fakultas, namun beda jurusan. Dia sangat jenius dalam bidang sastra
jepang sedangkan aku lebih ke english.
“Kamu yang aneh,
Miss Sharadiva Ivanowsky, masa nonton bola pake gamis? Hmm? Haha.
Emang di kota asalmu, Kudus sana, gitu yah? Haha” Ledekannya
berbalik menonjokku saat sudah duduk manis di sebelahku. Tuh kan, apa
aku bilang tadi, dia tak akan betah lama-lama memonyongkan bibirnya.
Ku injak pedal gas dengan keras, membuat Nadine meluncurkan sumpah
serapah karena kekagetannya. Aku tertawa puas melihatnya kembali
menggerutu.
------------------------------------------
Embun pagi
menyapaku begitu kubuka jendela kamar di pagi yang indah.
Burung-burung liar tersenyum kepadaku sambil mengepakkan sayapnya
dari dahan yang satu ke dahan lainnya. Aku sangat mencintai rumah
ini, tak tersentuh polusi kota Malang dan tak terdengar tangisan
jalan raya khas kota besar. Sejauh mata memandang, hanya terhampar
berpuluh-puluh hektare perkebunan buah. Rumah yang menjadi sengketa
pada awal perjumpaanku dengan Nadine, dan akhirnya kami memilih
menyewanya berdua hingga saat ini. Satu persatu ku bereskan barang
yang berserakan di kamarku, yang semuanya berbau Arema.
“Sha, kalo pas
basuh muka bacanya apah?” tiba-tiba seraut wajah kusut nongol di
depan pintu kamar. Nadine dengan wajah bangun tidurnya bertanya penuh
harap.
“udah aku
tempelin tadi malem di samping kran air. Pasti belum liat kan? Gih,
shubuhan dulu, uda jam 6.” Ku rantai tawaku semampuku demi melihat
perjuangan Nadine untuk berwudhu.
Hampir saja aku
melupakannya, Nadine dulunya adalah kristiani yang sangat ta’at.
Setiap Minggu, dia selalu rajin menampakkan diri di gereja terdekat.
Jujur saja, tak pernah terbersit setitikpun dalam fikirku bahwa
Nadine akan menjadi akhwatku dalam islam. Semenjak pertama tinggal
dengannya, dia memang sudah memberondongku dengan bombardir
pertanyaan seputar islam untuk menghujatnya dengan jalan pikir
kristianinya, namun ternyata setahun kemudian Nadine mengucapkan dua
kalimat syahadat di masjid At-Taqwa dekat rumah dengan bimbingan
seorang Kyai. Subhanallah, aku pun tak kuasa menahan tangis dan
segera mengambur dalam pelukannya.
Christabel Nadine
Alexandra bertransformasi menjadi Nadine Fatimah Bilqisa. Keluarga
besarnya di Surabaya membebaskan memilih apapun dalam hidupnya,
membuat urusan menjadi selangkah lebih mudah. Hari-hari penuh
kekonyolan membimbingnya untuk mempelajari islam di mulai. Belajar
sholat dengan mendegarkan bacaannya dari ipod hingga tertidur dalam
sujud saat sholat Shubuh. Pada akhirnya aku hanya bisa tertawa
berguling-guling di lantai tak peduli di hujani tatapan-gue makan lo-
dari Nadine.
------------------------------
“Shara, aku
diajak Nick balik ke keyakinanku dulu. Aku uda nolak terus-terusan
tapi dia tetep maksa. Aku takut,” aku melihat mata Nadine yang
penuh kegalauan.
Aku benci
mendengar nama Nick. Selain karena dia selalu mengejek Arema dengan
viking-nya, di matanya, umat muslim juga sangat rendah, tak mempunyai
harga. Kuhirup aroma kopi J.Co dan menikmati sensasinya membelai
manja hidungku. Hujan deras sejak sore hanya menyisakan gerimis,
beberapa tetes mengenai kaca dan kusentuh seakan aku menyentuhnya
langsung tanpa perantara kaca. Ribuan kendaraan berlalu-lalang setiap
menitnya membuahkan pemandangan gemerlap lampunya. Sementara Nadine
masih memandangku dengan sejuta pantulan harap. Seleranya sama sekali
tak tergugah untuk sekedar melirik secangkir kopi di hadapannya.
“Allah pasti
lindungin hamba-Nya dine, pasti. Trust me! Aku juga bakal selalu ada
buat kamu. Kamu uda putusin Nick kan?”
“Ga segampang
itu Sha, Nick selalu maksa aku, seakan-akan neror aku. Dia ga pernah
mau aku putusin, tapi aku anggepnya kita uda putus,” Desahan nafas
Nadine terdengar berdengung di telingaku membuat kepalaku semakin
penuh sesak serasa akan meledak.
“Kita omongin
besok aja yah dine, mumpung Minggu. Kepalaku pusing banget, banyak
kerjaan di BEM yang belum selese, belum lagi mata kuliah yang ga
kekejar. Maaf,”
“iya gapapa Sha,
aku ngerti. Maaf uda bikin kamu tambah pusing yah. Sekarang kita
pulang aja, uda malem, biar aku yang nyetir,” Nadine beranjak dan
membantuku bangkit.
Ah, Nadine memang
berhati bersih, bak kertas kosong tanpa setitik tinta pun. Sahabat
macam apa aku ini, tak bersedia mendengar keluh kesah sahabatnya.
Esok hari masih bisa ku simak penuturannya.
------------------------
Rasanya hari sudah
beranjak siang ketika terbangun dari tidur yang sangat nyenyak malam
ini. Poster Yongki Aribowo, pemain Arema pujaan hati menyambutku
dengan senyuman manisnya. Aku melirik jam berlogo arema, dan
terbelalak melihat jarum pendek di angka 9 dan jarum panjang di angka
8. Selepas shubuh tadi, tak seperti biasanya aku kembali terpuruk ke
atas kasur. Astaghfirullah, jangan sampai terulang kembali.
Selembar kertas
asing tergeletak disamping jam Arema. Segera kupungut dan kubaca
dengan mata masih 5 watt.
Sha,
Nick ngajak ketemu aku jam 7 di gereja dket sini. Dia bilang mau
ngomong penting, juga dia katanya nyerah buat maksa aku balik k agama
yn dulu. Perasaanku gaenak. Kalo smpe jm stenngah 9 aku gabalik,
jemput aku. Thankz. –Nadine-
Jam setengah 9? Itu kan sejam yang
lalu. Aduh Shara, kamu telat! Ya Allah, lindungi saudaraku ini ya
Allah. Ku sambar gamis yang ada dan secepat kilat berlari menuju
gereja yang berjarak sekitar 1km dari rumah. Tak ku hiraukan betapa
nyerinya perutku yang masih kosong, tak termasuki apapun.
Misa pagi
sepertinya telah usai dan gereja mulai sepi. Ku langkahkan kaki
pelan, mengendap-endap menuju jendela samping gereja. Alangkah
terkejutnya melihat apa yang sedang terjadi di dalam gereja. Darahku
seolah berhenti mengalir dan kakiku membeku di tempat. Seorang gadis
yang tak lain dan tak bukan adalah Nadine sedang meronta melepaskan
diri dari cengkraman beberapa biarawati. Pastor separuh baya memegang
kepalanya dan membacakan alkitab. Sedangkan Nick dengan senyum
liciknya berdiri di samping Pastor. Aku tak tau itu apa, namun cuci
otak dan pembaptisan sepertinya!
Tanpa berpikir
panjang, aku melempar batu segenggaman tangan yang berserakan di
tanah ke arah jendela sebanyak tiga kali dan berlari menuju pintu
belakang memasuki gereja. Sang Pastor dan Nick menghentikan
kegiatannya dan memeriksa jendela. Pada saat itulah aku membabi buta
menyingkirkan para biarawati yang sedang menahan Nadine dan
menariknya lari melalui pintu depan.
Aku merasakan
kakiku melayang membawa Nadine menjauh dari tempat itu. Nick berlari
mengejar aku dan Nadine tanpa ampun sedikitpun. Jari-jari Nadine yang
ku genggam sangat dingin membuatku semakin cemas. Wajahnya pucat
karena ketakutan yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku menyeberangi
jalan raya begitu saja. Terdengar jeritan Nadine dan kerumunan
disekelilingku, dan gelap.
--------------------
Langit sore ini
mendung. Aku tau, bumi dan langitpun berduka atas kepergiannya.
Apalagi aku, sang sahabat. Gundukan tanah yang masih basah
mengisyaratkan bahwa penghuninya baru saja menempatinya. Batu nisan
bertuliskan Nadine Fatimah Bilqisa tertancap di atasnya. Hatiku pilu
menyadari nama tersebut adalah nama Nadine, sahabatku.
Kejadian di depan
gereja tiga tahun lalu merenggut hartaku yang sangat berharga, kedua
mataku untuk melihat warna-warni dunia dan Arema, tentunya. Namun tak
pernah terpercik rasa sesal di hatiku karena aku mampu melindungi
sahabatku, Nadine. Selama tiga tahun ini Nadine dengan sabar
merawatku dan mengajarkan mata kuliah bahasa inggris yang dengan
tekun sengaja dipelajarinya demi mengajarkannya kepadaku. Dia juga
dengan sabar mengetikkan skripsiku hingga hampir usai. Tak lupa,
laporannya mengenai seluruh sepak terjang Arema.
Tepat seminggu
yang lalu dokter Wijaya memberitahuku ada seseorang yang bersedia
mendonorkan matanya untukku. Alangkah berbunganya hatiku dan ku bagi
secercah harap itu pada Nadine. Aku tau dia juga ikut tersenyum
meskipun aku tak dapat melihatnya. Segera esoknya, aku memasuki ruang
operasi dan menerima kedua mata dari orang yang sangat mulia tersebut
yang tak aku ketahui.
Ada yang hilang
semenjak aku keluar dari ruang operasi, sesuatu yang amat berharga
melebihi kedua mata baruku. Nadine hanya sesekali memasuki ruanganku
dan itupun hanya untuk sekedar menyapaku pelan kemudian menghilang
kembali. Ingin ku lepas perban di kedua mataku segera agar bisa
melihat wajah cantik Nadine kembali setelah tiga tahun lebih.
Dan pagi tadi,
akhirnya aku dapat menikmati pelangi dunia namun aku tak menemukan
sosok Nadine begitu membuka mata! Ku tanyakan pada setiap orang dan
ternyata jawabnya ada di batu nisan ini. Batu nisan dihadapanku. Aku
bersimpuh di samping makam belahan jiwaku dan dengan tangan bergetar
membuka surat yang dititipkan pada Bunda.
Sharadiva
Ivanowski. Aku merasa heran pertama kali mendengar namamu. Terdengar
seperti orang Rusia mungkin? Ah, yang jelas bukan Indonesia yah,
hehe. Saat kamu membaca suratku ini, mungkin aku sudah tenang oleh
doamu Sha.
Kita
seperti mata dan tangan Sha. Jika tangan terluka, maka mata akan
meneteskan air mata dan jika mata meneteskan air mata, maka tangan
akan mengusapnya dengan lembut. Iya kan? Aku berharap kamu jadi yang
terbaik, meskipun tanpa aku.
Mataku
ini sebagai ganti matamu yang lenyap saat kamu menyelamatkan hidupku.
Kamu pahlawan Sha. Tetapi tak usahlah kamu merasa bersalah, karena
aku memang mengidap kanker otak dan sudah tiba waktunya kembali pada
Yang Maha Kuasa. Toh mataku ini tak berguna di alam kubur nanti kan?
Kamu
tau Sha? Aku sudah mengenakan busana sepertimu semenjak kecelakaan
yang merenggut matamu. Banyak rintangan ku hadapi namun tak mampu
menggoyahkan tekadku menjadi muslimah sejati sepertimu. Semoga saja
aku dapat mempertahankannya hingga akhir aku menutup mata, Insha
Allah.
Maaf
Shara, aku hanya bisa membuat hidupmu menderita karena mengenalku.
Tetapi kamu adalah berlian dalam hidupku. Karena kamu, aku mengerti
arti berbagi, karena kamu aku mengerti arti berjuang, karena kamu aku
mengerti arti hidup dan karena kamu aku mngenal cahaya indah, Islam.
Rasa
terima kasihku selalu terhembus melalui embun di setiap pagimu. Jika
langit menangis, akupun sedang menangisi semua kebaikanmu yang tak
mampu aku balas. Jika langit berbinar, akupun sedang berbinar
mengingat semua tentangmu dan Arema-mu.
Sahabat Sehati,
Nadine Fatimah Bilqisa
Walyatalattovvic
The PrincessHadna
XII
Religion Program
Pernah di Publikasikan di majalah El-BA