Tak ada yang spesial, hanya catatan sederhana tanpa modal :) Kumpulan aksara tak beraturan, namun sarat makna jika di rasakan!
Tampilkan postingan dengan label Ilma's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilma's. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Maret 2013
Aku, Kemungkinan :'
Sebut saja aku sebagai sebuah kemungkinan, yang bisa untuk
kauhentikan di tengah jalan atau juga kauntuntaskan.
Sebut saja aku sebagai bagian yang akan kauhubungi sewaktu-waktu,
namun bisa juga tak kauacuhkan tanpa ragu.
Atau jadikan saja aku sebagai sosok yang kepadanya akan kauberikan cinta,
lalu kadang kautinggalkan tanpa berita.
Aku mungkin tidak akan menjadi yang pertama tahu
saat kamu sedang dalam masalah, namun aku pasti
yang akan mendengarkan tanpa sedikitpun ingin mengesah.
Karena itu tak pernah mengapa jika aku
bukanlah yang pertama bagi segalamu,
meskipun kamu adalah segalanya bagi segala yang ada padaku.
Pergilah kamu menuju tempat yang entah,
lalu kembali saja ke sini ketika sudah mulai lelah.
Bukankah di mataku, kamu adalah sosok tanpa salah?
Karena untukmu, aku selalu memiliki waktu untuk menunggu
tanpa peduli akan selama apapun itu.
Pada akhirnya, waktu yang akan memberi pengertian, jika memang cinta sudah kuberi dengan terlalu berlebihan
Cerpen : Putih abu-abu ku!
Putih
Abu-abu ku
Mataku sayu
melihat tetesan gerimis di jendela kamar. Jam menunjukkan pukul 01.30
dini hari. Tetes demi tetes turun melewati kaca jendela dan akhirnya
berlabuh ke dalam tanah. Alangkah sederhananya hidup jika di
ibaratkan sebagai tetesan gerimis, yang jatuh dan kemudian meresap ke
tanah. Hidup manusia harus tetap naik atau akan jatuh di telan bumi.
Seperti hidupku ini, sedang di ambang batas.
Baru saja seminggu yang lalu aku
tertawa ceria memandang matahari dengan tegap, tanpa takut akan
sinarnya. Berjuta mimpi aku gantungkan pada langit malam untuk
memberikan penerangan bagi hidupku. Dan masih ku ingat betapa
yakinnya aku menjawab pertanyaan Zahra kala itu.
“lulus dari sini mau kemana mi?”
tanya Zahra mengagetkanku yang sedang menulis rancanagn redaksi
majalah sekolah, An-Nisa magz.
“emm, aku mau ambil Hubungan
Internasional di UGM.” Jawabku mantap
“wah, aku juga. Nanti bareng loh
yah,”
Aku hanya tertawa menanggapi Zahra
Dan itu seminggu yang lalu, bukan
sekarang. Saat aku meringkuk dibawah selimut tebal dalam
kesendirianku. Kejadian yang bertubi-tubi menimpa hidupku seakan
menyedot seluruh semangat yang ada dalam diriku.
Pikiranku memaksa aku kembali
mengingat kejadian tadi pagi. Hatiku pilu melihat Bunda menangis
dihadapanku. Seharusnya aku yang menerima hukuman ini, bukan Bunda
dan Ayah. Aku yang selama ini tak pernah bersyukur atas semua
limpahan nikmat-Nya , selalu merasa kurang, kurang, dan kurang.
Perputaran mata uang di tanganku berlangsung sangat cepat bak pesawat
jet tempur Amerika yang menggempur umat muslim di Gaza.
Astaghfirullah. Aku tak pernah berfikir berapa tetes keringat yang
mengucur untuk memenuhi kebutuhanku.
Santri. Yah, aku adalah seorang santri
di sebuah perguruan islam putri ternama di kudus, An-nisa. Di saat
aku sedang memburu ilmu, Ayah dan bunda melancong ke ibukota untuk
suatu urusan, segerombolan orang biadab membobol rumahku. Tak
tanggung-tanggung mereka berhasil membawa kabur ratusan juta rupiah
dan sejumlah perhiasan bunda.
Ya Rabb, aku percaya Engkau akan
membalas mereka dengan balasan yang setimpal. Tapi bagiku itu tak
akan cukup membayar air mata Bunda ku yang sangat mulia, calon
bidaadari surga untuk Ayah. Bunda adalah wanita paling berharga dalam
hidupku yang selalu memberiku asupan semangat dan tak henti-henti
membenarkan kesalahanku.
Satu hal lagi yang membuatku
terjatuh. Kata-kata yang serasa membunuh berbagai harapan indah masa
depan. Kata ‘aku bosen sama kamu. Aku pengen cari cewe lain lagi’
dengan mudahnya terlontar dari mulutnya. Seseorang yang membuat
hidupku lebih berwarna dan namanya sudah terpatri kuat dalam hatiku,
Fikri sang ketua OSIS Salafi, sekolah putra di lingkungan An-Nisa.
Semua memang salahku, sudah jelas berhubungan dengan lawan jenis
dilarang syariat, tetapi aku masih saja nekat menembus tembok
peraturan yang menjulang tinggi. Dia telah memberiku bunga-bunga
indah namun pada akhirnya kaktus berduri lah yang kekal di hat.
--------------------------------------------------
Kembali pada kenyataan,dalam gelap
malam dibawah selimut tebal. Mataku melirik segelas susu yang tadi
disuguhkan Aulia, Zahra, Nabil, dan Ocha. Mereka adalah penopangku
saat ini. Aku tak tau harus bagaimana andai saja mereka
meninggalkanku sperti Fikri yang meninggalkanku di saat aku terpuruk.
Tanpa mereka, mungkin aku akan terus meneteskan air mata. Masih
terngiang ucapan Nabil sebelum meninggalkan kamarku tadi.
“ aku pengen liat Ilmi yang pertama
kali nyapa aku. Wajah innoence dan impian yang menari-nari di
atasnya, cheer up ukhti.” Senyum manis terlukis indah diwajahnya.
Sementara aku hanya bisa tersenyum getir melihat langkahnya.
Jam berdentang dua kali dan memaksaku
melihat keadaan kamar. Semuanya telah terbuai indahnya mimpi. Mataku
menelusuri setiap sosok yang tertidur pulas di kamar. Mulai dari Ummi
yang keibuan, Lita dengan sikap slalu ingin taunya, Nurul yang
seolah-olah tau segalanya, Vina si kutu buku , Faiq sang leader, Lia
si cerewet, dan terakhir Mitha yang hobi makan.
Semua telah terbuai indahnya mimpi.
Sedangkan aku, untuk sekedar memejamkan mata saja rasanya tak
sanggup. Aku takut tidak akan pernah bisa membuka mata lagi. Aku
takut tidak akan bisa melihat sahabat-sahabat ku lagi, dan beribu
ketakutan yang menghantui, aku terlalu takut akan kenyataan hidup.
Saat terpuruk begini, aku merindukan
Cherry, buah favoritku. Aku suka sekali memakan cherry. Bunda selalu
menyediakan stok berkilo-kilo cherry di lemari pendingin di depan
pintu kamarku. Entah kenapa sejak kecil aku tergila-gila dengan buah
cherry. Bentuknya yang bulat sama seperti wajahku, warnanya merah
menggoda dan langka nya buah ini membuatku semakin menggilai cherry.
Ingin rasanya aku memakan satu keranjang cherry malam ini untuk
mengusir kegundahanku, andai bisa.
-----------------------------------------------
Jangan pernah
mengingat masa lalu. Sekarang tidak akan sama seperti dulu. Aku harus
berusaha keras memperoleh beasiswa kuliah. Itu harga mati. Tak tega
melihat wajah bunda berlinang air mata. Walaupun ayah dan bunda pasti
sanggup membiayaiku, aku sadar aku tidak boleh menggantungkan hidupku
pada mereka. Kita tidak selalu berada diatas. Semenjak kejadian itu,
aku harus merasa lebih bersyukur dan menghargai apapun yang diberi
Allah. Tidak ada jalan-jalan ke Mall, tidak ada karaoke ria dan tidak
ada bergosip ria sambil menikmati french fries, juga tidak ada
panggilan sayang dari fikri. Semudah ini hidupku diputar balikkan.
“ yang sabar yah. Kamu lebih baik
tanpa dia. Kamu harus fokus ke Ujian Nasional sama majalah sekolah.
Ngga mau nyusahin Bunda lagi kan? Harus dapet beasiswa loh. Pasti
kita bantu kok.” Ocha menepuk punggungku sesaat setelah pak Haris
meninggalkan kelas.
“makasih banyak Cha. Aku sering
banget ngerasa gak bisa bangkit lagi. Cobaan dateng bersamaan.
Padahal aku juga pusing mikirin UN sama An-Nisa’ Magz”
“ gak boleh gitu ah sayang! Ini tuh
Cuma proses biar ilmi lebih kuat dan dewasa.” Zahra ynag duduk
disampingku ikut menimpali. Nabil pun mengangkat jempolnya ke arahku.
“ kalo kamu terpaksa ninggalin
pelajaran demi An-Nisa Magz, Aulia pasti mau jadi guru private kamu.
Haha.” Celetukan Ocha membuat kita semua tertawa diikuti cemberutan
di wajah Aulia.
Terima kasih Ya Rabb, aku di anugerahi
sahabat-sahabat terbaik seperti mereka. Mereka tak hanya ada saat aku
tersenyum, tetapi juga saat aku berlinangan air mata menghadapi
pahitnya kenyataan hidup. Berbagai pengalaman suka maupun duka
menjadi makanan sehari-hari yang kita lahap bersama. Bolos pelajaran
di kantin, telat saat pemadatan, makan saat pelajaran bahkan
menjahili guru.
Beberapa bulan
yang lalu sempat ada jarak diantara kita. Aku yang terlalu sibuk
dengan OSIS dan Fikri, Ocha dan Zahra yang tak bisa menerima gosip
buruk tentang Nabil, dan Aulia yang memilih membela Nabil. Namun
karena ada benang merah di hati kita dan rasa sayang yang sudah
tercipta, kita kembali menyatukan asa bersama.
Bukannya aku tak tahu banyak mata
sirik melihat kita, hanya saja aku tak peduli. Biarlah apa kata orang
tentang kita. Mereka tidak akan tau kehidupan kita yang sebenarnya.
Selama ini mereka menganggap kita genk elite dan cantik. Bagiku
pendapat itu salah besar tanpa sebuah pemikiran. Merka tidak akan
pernah tau bagaimana terpuruknya aku sekarang. Hidupku yang serasa
sempurna dengan pacar ketua OSIS, aktivis di sekolah, genk elite, dan
seabrek limpahan nikmatnya. Tetapi sekarang berubah 180°.
Hidup itu benar-benar seperti roda, selalu berputar.
------------------------------------------
“ mi, emmm....... Nabil dituduh
nyuri uang 400ribu.” Bisik Zahra setelah susah payah menyeretku ke
lorong sepi perpustakaan.
“hah!!! Gak salah????? Nabil kan,,
ah,,,,,” gendang telingaku seakan tak terima mendengar berita itu.
Nabil si barbie baik hati, yang terpenuhi segalanya, mencuri uang??
Huft, mimpi apalagi ya Rabb.
“iya, aku juga gak percaya. Tapi
kata pak kiyai 75% pasti dia. Kalo dia emang bener nyuri, kita
nasehatin dia baik-baik. Tapi kalo dia yang difitnah, kita harus siap
bantu dia buktiin dihadapan pengurus.”
“ tapi mau gak mau kita tetep ada
perasaan gimana gitu sama nabil.” Ocha yang sedari tadi hanya
menyimak ikutmenyumbangkan suaranya.
“pernah dengerkan, sahabat sejati
adalah sahabat yang berkata benar pada kita, bukan hanya membenarkan
semua perkataan kita.” Aku teringat kata-kata dari sebuah buku
yang aku baca. Kata yang penuh arti mendalam.
Bel istirahat selesai berdering dan
memaksa kita menyudahi acara dari hati ke hati ini. Dengan langkah
gontai aku berjalan aku berjalan melewati petugas perpus yang
tersenyum ramah. Zahra menyeretku lagi ke loteng sekolah. Heran deh
anak yang satu ini, hobinya nyeret orang, gak sabaran lagi. Hoahm.
-------------------------------------------
Nabil terduduk lemas di hadapan Aulia,
Zahra, Ocha dan aku. Air mata mengalir di pipi ranumnya. Suasana
loteng yang sangat sepi karena sedang dilaksanakan KBM membuat isakan
Nabil terdengar jelas.
“Bukan aku yang ngambil. Billahi ..”
Ucapan sangat lirih keluar dari bibir mungil Nabil. Lebih tepat
disebut bisikan sepertinya.
“Alah, ngga usah boong deh bil!
Pasti kamu yang ngambil kan?” Teriak Ocha tiba-tiba mengejutkan
kita semua.
“Ocha!” Spontan aku, zahra dan
Aulia memandang Ocha tajam. Tak menyangka Ocha akan berkata menusuk
sperti itu.
“Kenapa sih kalian percaya Nabil?
Wajahnya aja yang Innocence, padahal hatinya busuk, sok cantik!
Denger yah, aku benci Nabil!” Kebencian tergambar jelas di wajah
Ocha yang menghentakkan kaki sebelum berlari menuruni tangga loteng.
Kenapa jadi seperti ini? Selama ini
Ocha selalu baik terhadap Nabil tetapi kenapa berubah seperti sebuah
pisau yang mengiris hati Nabil? Ah, ada apalagi ini? Haruskah
persahabatan ini juga hancur seperti hubunganku dengan Fikri? Lau
siapa yang akan menjadi tumpuanku selain mereka? Aku tak pernnah
bisa membayangkan kita akan hidup masing-masing, individu.
Mengahadapi kerasnya hantaman ombak sendiri, tanpa ada yang membantu
berdiri kembali.
Ya Rabb, masalah tak henti-hentinya
datang menghampiriku. Mungkinkah aku terlalu banyak berbuat dosa
sehingga tak cukup hanya satu cobaan untuk menegurku? Aku pasrahkan
semua kepadaMu Illahi Rabbi yang menguasai seluruh jiwa dan ragaku.
Aku hanya bisa berdoa semoga dengan adanya berbagai masalah dalam
hidupku membuatku semakin bersyukur kepada-Mu, mendekatkan diri
kepada-Mu dan membuatku semakin tegar setegar batu karang di laut
lepas.
--------------------------------------------------
Hari ini aku sangat bangga. Selempang
kelulusan bertuliskan XII Keagamaan bertengger manis di tubuhku.
Peringkat pertama di kelaspun aku boyong bersama penghargaan OSIS
lainnya. Tak luput, satu tiket beasiswa di UGM ada dalam genggaman
tanganku. Aku melihat Ayah dan Bunda tersenyum melihat putri
satu-satu nya, Haura Ilmi Cherryla melepas statusnya sebagai pelajar
di An-Nisa.
Aulia, Zahra dan Nabil menyambutku
dengan pelukan hangat selesai acara pelepasan. Camera digital di
tanganku dengan setia mengabadikan setiap momen terakhir antara kita.
Sementara aku lihat Ocha memalingkan muka begitu melihat kita tertawa
gembira.
Kenangan itu muncul lagi. Pengakuan
Ocha serta fitnah yang menimpa Nabil. Setelah kejadian di loteng,
aku, zahra dan Aulia bersepakat untuk mengusut siapa dalang di balik
masalah Nabil. Tak pernah terbersit dalam angan kita, orang yang
telah memfitnah Nabil tanpa perasaan adalah sahabat kita sendri, Ocha
sang pengkhianat tak berperasaan. Benih-benih persahabatan yang kita
tanam selama dua tahun lebih seolah-olah lenyap terbakar rasa benci
Ocha tanpa sisa. Rasa benci karena masalah sepele, laki-laki pujaan
Ocha ternyata menaruh hati pada Nabil. Ah, alangkah dangkalnya
pemikiran Ocha. Masalah yang terlalu sering menghancurkan sebuah
persahabatan terjadi padaku juga.
Tak pernah terfikir sebelumnya
persahabatan kita dengan Ocha akan berakhir tragis seperti ini.
Tetapi aku bahagia, aku masih punya Aulia, Zahra dan Nabil yang
selalu menyemangatiku untuk bangkit dari keterpurukan. Karena mereka,
aku berhasil menjadikan hidupku lebih bermakna. Semoga persahabatanku
dengan mereka akan kekal sampai maut memisahkan kita.^^
Kudus, 26 Oktober 2011
Tulus dari dalam hati untuk Abi dan Umi
dan seseorang yang tak pernah menganggapku bisa.
Langganan:
Postingan (Atom)